Pacitanku.com, NGADIROJO – Mengantisipasi ancaman gempa megathrust dan tsunami di pesisir selatan Jawa, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, Jumat (17/7/2026).
Langkah mitigasi ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Pacitan, Gagarin Sumrambah, dan ditargetkan untuk mewujudkan masyarakat yang tanggap bencana.
Kegiatan yang diinisiasi oleh BMKG melalui Stasiun Geofisika Nganjuk ini mengusung tema “Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempabumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045”.
Edukasi kebencanaan ini dinilai sangat krusial mengingat posisi geografis wilayah pesisir selatan Jawa yang berhadapan langsung dengan zona subduksi berpotensi kegempaan tinggi.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah memberikan apresiasi atas sinergi BMKG dan Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Ia meminta masyarakat untuk memahami rentetan aktivitas seismik akhir-akhir ini sebagai sinyal alam guna meningkatkan kewaspadaan.
“Getaran demi getaran yang dirasakan warga akhir-akhir ini adalah isyarat bahwa energi tektonik di bawah kaki kita terus bergerak dan menyimpan potensi yang besar,”tegas Gagarin di hadapan para peserta.
Ia menambahkan, sejarah peristiwa gempabumi di Indonesia menjadi pelajaran penting bahwa bencana alam tidak pernah menunggu masyarakat siap. Terlebih lagi, wilayah Pacitan memiliki struktur geologi yang berisiko tinggi.
“Ditambah dengan keberadaan sesar lokal aktif dan kedekatannya dengan zona megathrust, maka kesiapsiagaan bukanlah lagi sebuah pilihan, melainkan suatu kewajiban,”imbuh Gagarin.
Pelaksanaan SLG tahun 2026 ini diikuti oleh 38 peserta lintas sektor.
Para peserta tersebut terdiri dari perwakilan unsur Pemerintah Daerah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Pemerintah Desa, TNI dan Polri, institusi pendidikan, relawan keamanan masyarakat, hingga badan usaha dan perwakilan media massa.











