Jalan Sunyi Bela Kaum Lemah: Menanti Gebrakan Beda Yakuza Maneges Pacitan

oleh -171 Dilihat
Pengurus Yakuza Maneges Pacitan bersiap melakukan deklarasi advokasi masyarakat.
Sekretaris Yakuza Maneges Pacitan, Rony Panengah (tengah), saat memberikan keterangan terkait visi organisasi dalam membela kaum lemah dan rencana deklarasi di Pacitan.

Pacitanku.com, PACITAN — Di balik tenangnya debur ombak pesisir selatan, sebuah pergerakan sunyi tengah merajut asa bagi mereka yang terpinggirkan.

Membawa napas spiritual dari tokoh karismatik Gus Thuba Topo Broto, kehadiran Yakuza Maneges Pacitan kini dinanti publik Kota 1001 Gua lewat sebuah deklarasi advokasi yang dijanjikan akan tampil berbeda.

Paradoks Nama dan Transformasi Laku

Memahami Yakuza Maneges Pacitan tidak bisa dilepaskan dari rahim pemikirannya di Kediri. Organisasi ini lahir dari kegelisahan batin seorang Gus Thuba Topo Broto Maneges. Sang tokoh agama yang akrab disapa Den Gus Thuba (DGT) ini mewarisi laku dakwah sang kakek, ulama besar KH. Hamim Jazuli atau Gus Miek.

Dakwah kultural ini tidak mengutuk kegelapan, tetapi justru menyalakan lilin. Akronim Yakuza sendiri sejatinya adalah sebuah doa pembebasan. Kepanjangannya adalah ‘Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi’. Melalui wadah ini, kaum jalanan dirangkul seutuhnya. Mereka dibimbing untuk berhijrah menjadi pembela kaum lemah Pacitan, bukan sekadar menjadi laskar tanpa arah.

Tiga Pilar Pengabdian di Pesisir Selatan

Sebagai perpanjangan tangan dari pusat, gerakan di pesisir selatan ini mengusung visi yang sangat tajam. Terdapat tiga pilar utama yang menjadi napas pergerakan mereka sehari-hari.

Pertama, Menjaga Kaum Lemah. Langkah ini mewujud dalam advokasi dan perlindungan nyata bagi warga yang tidak berdaya atau terdzalimi penguasa. Kedua, Pembela Orang Benar. Artinya, mereka berani menegakkan kebenaran di hadapan siapa pun.

Kebenaran ini harus disuarakan tegak di tengah masyarakat, pejabat birokrasi, hingga tokoh agama sekalipun. Ketiga, Pembenah Orang Salah. Pendekatan ini bertujuan merangkul individu yang tersesat agar kembali menemukan jalan yang lurus.

Advokasi Taat Hukum dan Beradab

Pergerakan laskar jalanan sering kali disalahpahami masyarakat awam. Namun, Sekretaris Yakuza Maneges Pacitan, Rony Panengah, menepis keras stigma negatif tersebut. Ia menegaskan bahwa pergerakan mereka selalu berpijak teguh pada aturan main negara.

“Dan saat menjalankan misi itu berada di ranah hukum atau kebijakan, maka kami tentu akan berkoordinasi dengan pihak berwenang,” tegas Rony Panengah, memberikan garansi kedewasaan berorganisasi.

Sikap taat hukum ini bukan sekadar retorika di atas kertas. Secara de jure, legalitas organisasi ini telah tercatat resmi di Ditjen AHU Kementerian Hukum dan HAM. Kepengurusan di wilayah Pacitan pun dikawal oleh figur-figur strategis yang paham hukum.

Anggota DPRD Kabupaten Pacitan, Rudi Handoko, didapuk bertindak sebagai Penasihat. Sementara itu, jajaran eksekutif dikomandoi oleh Agus Prasetyan (Ateng SH) sebagai Ketua, didampingi Rony Panengah di posisi Sekretaris, serta Imam Fahrudin bertugas sebagai Bendahara.

Menanti Deklarasi di Kota 1001 Gua

Susunan kolaborasi elegan antara birokrat, pakar hukum, dan kaum akar rumput ini menciptakan anomali pergerakan yang indah.

Mereka membuktikan bahwa laku zuhud di era modern adalah berani mengulurkan tangan ke lumpur ketidakadilan demi mengangkat derajat kaum papa.

Kini, publik menanti wujud nyata dari barisan pengabdi ini. Menariknya, Rony Panengah sempat melempar isyarat yang sukses memantik rasa penasaran warga Pacitan.

“Khusus terkait eksistensi Yakuza Maneges di Pacitan, dalam waktu dekat, akan melakukan semacam deklarasi dengan sesuatu yang berbeda. Tunggu saja,”ungkapnya mengakhiri percakapan.

Di tengah krisis keteladanan hukum saat ini, janji deklarasi tersebut layaknya setitik cahaya. Warga pesisir selatan kini memiliki harapan baru, menanti gebrakan pembela kaum lemah ini bergema di bumi 1001 Gua.

No More Posts Available.

No more pages to load.