Kemenbud Perkuat Narasi Sejarah Situs Sejarah Monumen Jenderal Sudirman Pacitan

oleh -140 Dilihat
Foto Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Bupati Pacitan sedang melihat diorama perjuangan Jenderal Sudirman di Monumen Nawangan.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon (tengah) didampingi Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji (kanan) mengamati diorama saat meninjau Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman di Desa Pakisbaru, Nawangan, Pacitan, Jawa Timur, Jumat (27/3/2026). (Foto: Kementerian Kebudayaan/Heri Budi Santoso)

Pacitanku.com, NAWANGAN — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan napak tilas ke Rumah Markas Gerilya Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Pacitan, guna menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga situs sejarah yang menjadi bukti vital eksistensi kedaulatan Indonesia saat Agresi Militer Belanda II.

Kunjungan yang dilaksanakan pada Jumat (27/3/2026) tersebut menonjolkan peran strategis Nawangan sebagai pusat komando Panglima Besar Jenderal Sudirman selama 98 hari, terhitung sejak 1 April hingga 7 Juli 1949.

Dalam tinjauannya, Fadli Zon yang didampingi Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, menegaskan bahwa perlawanan dari pelosok desa seperti Nawangan merupakan faktor kunci yang mematahkan klaim Belanda tentang runtuhnya Republik Indonesia.

“Belanda telah melanggar perjanjian gencatan senjata dan kemudian Jenderal Sudirman memimpin gerilya dan berpindah-pindah,”kata Fadli Zon saat memberikan keterangan di lokasi.

Fadli menjelaskan bahwa keberadaan markas komando ini menunjukkan sinergi kuat antara perjuangan fisik di Pulau Jawa dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera.

Kolaborasi dua kekuatan ini mengirimkan pesan tegas kepada masyarakat internasional bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tetap membara meski ibu kota Yogyakarta saat itu telah jatuh.

“Karena perlawanan fisik yang ada di Sumatera dan di Jawa, termasuk dipimpin oleh Jenderal Sudirman di Jawa terutama, itu memberikan sinyal kepada delegasi kita bahwa Indonesia masih ada dan masih terus melawan kolonialisme Belanda,”tambah Menbud.

Selain menyambangi rumah tinggal yang menjadi markas, rombongan juga meninjau Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Di sana, mereka melihat langsung diorama yang menggambarkan strategi perang gerilya dan perjalanan panjang sang panglima dalam mempertahankan kemerdekaan.

Turut hadir dalam rombongan tersebut Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan serta Sekretaris Direktorat Jenderal Wawan Yogaswara.

Melalui kunjungan ini, Kementerian Kebudayaan menargetkan penguatan narasi sejarah berbasis bukti agar situs-situs seperti Nawangan dapat menjadi ruang refleksi dan edukasi nilai patriotisme bagi generasi muda Indonesia di masa depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.