Pererat Silaturahmi Idulfitri, 150 Seniman Lorok Gelar Pentas Seni “Srawung Roso”

oleh -178 Dilihat
Seorang seniman menampilkan tarian lincah Bujang Ganong saat memeriahkan acara silaturahmi penggiat seni "Srawung Roso" di kawasan Kawedanan, Titik Nol Kilometer Lorok
Seorang seniman menampilkan tarian lincah Bujang Ganong saat memeriahkan acara silaturahmi penggiat seni "Srawung Roso" di kawasan Kawedanan, Titik Nol Kilometer Lorok, Rabu (25/3/2026). (Foto: Resi Wulandari/Pacitanku)

Pacitanku.com, NGADIROJO — Memanfaatkan momentum Hari Raya Idulfitri, sebanyak 150 penggiat seni se-Lorok menggelar acara bertajuk “Srawung Roso” di kawasan Kawedanan, Titik Nol Kilometer Lorok, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan pada Rabu (25/3/2026).

Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus panggung unjuk potensi seni budaya lokal, mulai dari tari tradisional hingga pementasan reog.

Ketua Panitia Srawung Roso, Lukito Amri Sunu, mengatakan acara ini lahir dari kebutuhan para seniman lokal untuk saling mengenal dan membangun kebersamaan yang lebih solid.

“Kegiatan Srawung Roso ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar penggiat seni Lorok. Karena kalau tidak ada kegiatan seperti ini, mungkin penggiat seni di Lorok juga tidak saling mengenal satu sama lain,”kata Lukito.

Lebih lanjut, Lukito menjelaskan bahwa nama acara ini memiliki filosofi yang mendalam. Kata srawung berarti silaturahmi, sedangkan roso bermakna menggunakan rasa yang baik.

Sejumlah anak tingkat PAUD/TK dan SD antusias mengikuti lomba mewarnai yang menjadi rangkaian pembuka acara "Srawung Roso" di kawasan Kawedanan, Titik Nol Kilometer Lorok, Rabu (25/3/2026). Pelibatan berbagai kelompok usia dalam acara ini bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas dan kecintaan terhadap seni sejak dini.
Sejumlah anak tingkat PAUD/TK dan SD antusias mengikuti lomba mewarnai yang menjadi rangkaian pembuka acara “Srawung Roso” di kawasan Kawedanan, Titik Nol Kilometer Lorok, Rabu (25/3/2026). (Foto: Resi Wulandari/Pacitanku)

Dengan demikian, Srawung Roso diartikan sebagai upaya menjalin persaudaraan dengan penuh welas asih.

Rangkaian acara yang disajikan sangat beragam dan melibatkan berbagai kelompok usia. Kegiatan dimulai dari lomba mewarnai untuk tingkat PAUD/TK dan SD kelas 1-2.

Puncak acara dimeriahkan oleh pagelaran seni dari 19 sanggar tari se-Lorok dan pementasan reog yang melibatkan seluruh divisi reog setempat.

Suasana semakin semarak dengan adanya pertunjukan musik band pada malam harinya.

Tingginya antusiasme penonton yang memadati Titik Nol Kilometer Lorok menunjukkan besarnya dukungan masyarakat terhadap pelestarian seni dan budaya.

Lukito berharap kegiatan yang memadukan kreativitas dan kepedulian antar sesama ini dapat terus dipertahankan sebagai tradisi tahunan.

“Harapan kami, kegiatan ini bisa terus berlanjut setiap tahun di momen hari fitri seperti ini, dan semakin berkembang untuk para penggiat seni di Lorok,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.