Mengenal Seni Oglor Pacitan, Lahir dari Salawat 1943 dan Kini Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda

oleh -2850 Dilihat
Oglor, Kesenian dari Bunyi Gendang! Kesenian unik Pacitan ini dinamai dari suara alat musik yang menghasilkan bunyi "gler-gler" saat dipukul. Berawal dari salawatan sederhana pada tahun 1943, Oglor kini didorong untuk terus lestari lewat inovasi tari dan telah tampil hingga ke TMII Jakarta. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Pacitanku.com, NGADIROJO – Kesenian tradisional Seni Oglor dari Desa Wonokarto, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, kini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia Tahun 2025.

Penetapan ini menjadi pengakuan atas tradisi yang berakar dari aktivitas bersalawat yang diprakarsai oleh almarhum Tomokarso sejak tahun 1943.

Seni Oglor merupakan perpaduan unik antara bahasa Jawa dan syair-syair selawat yang berisi nasihat Islam, dikemas dalam bahasa Arab Pegon yang mudah dipahami masyarakat setempat.

Baca juga: Ini Daftar 10 Warisan Budaya Takbenda Pacitan yang Diakui Nasional Hingga 2025

Sekretaris Desa (Sekdes) Wonokarto, Katwanto, menjelaskan bahwa kesenian ini awalnya hanya menggunakan media sederhana, yakni satu buah gendang dan dua buah terbang.

Antusiasme masyarakat membuat kelompok ini berkembang pesat, dan pada tahun 1961, tercatat telah ada sekitar 30 kelompok di Desa Wonokarto.

Perubahan nama dari “salawatan” menjadi “Oglor” muncul sekitar tahun 1970-an, setelah kelompok seni ini berinovasi dengan membuat alat musik yang lebih besar.

Warisan Sejak 1943! Seni Oglor, salawat tradisional Pacitan, kini resmi jadi WBTB Nasional 2025. Kesenian dari Desa Wonokarto ini menggabungkan bahasa Jawa dan syair Islam dengan teknik vokal tinggi, dan kini dikembangkan dengan unsur tari massal untuk menjaring generasi muda. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Penamaan “Oglor” didasarkan pada bunyi alat musik yang besar ketika dipukul, menghasilkan suara “gler-gler”.

Meskipun sempat mengalami penurunan peminat karena tingkat kesulitan vokal yang sangat tinggi—konon nadanya melebihi 10 oktaf—para seniman Oglor terus melakukan inovasi tanpa menyimpang dari esensi aslinya.

Inovasi ini mencakup penambahan peralatan, kreasi tari, dan penyesuaian kaidah kebahasaan Arab.

“Ketika direkam, nada itu katanya melebihi dari 10 oktaf, sangat tinggi sekali. Ini yang membuat anak-anak muda sekarang banyak yang tidak sampai (nada-nya), meskipun mereka aktif berlatih,”kata Katwanto, Sabtu (25/10/2025) di Ngadirojo, Pacitan.

Seni Oglor secara tradisional dipentaskan pada acara-acara ritual dan hajatan seperti Mitoni (tujuh bulan bayi) dan resepsi hari besar nasional.

Sekretaris Desa (Sekdes) Wonokarto, Katwanto. (Foto: Febriani Cahyaningtias/Pacitanku)

Kesenian ini juga telah menunjukkan eksistensinya di kancah nasional, dengan pementasan di Festival Seni Budaya Tradisional Tk. Nasional di TMII Jakarta sebagai wakil Jawa Timur dan di Malang, Jawa Timur.

Saat pengajuan WBTb, Katwanto menegaskan bahwa fokus utama yang diajukan adalah musik tradisional Oglor yang orisinal.

Namun, untuk menjaring generasi muda, Oglor juga dikembangkan dalam bentuk kolaborasi, seperti tari Oglor massal yang melibatkan sekitar 200 peserta dari berbagai jenjang sekolah pada Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) 2025.

“Harapan saya, seni Oglor betul-betul menjadi budaya khas di Desa Wonokarto dan masyarakat bisa menerima seni tradisional ini, serta bersama-sama melestarikannya seperti di masa lalu,”pungkasnya.

Kini, berkat upaya Pemerintah Desa, Disparbudpora, dan dukungan tokoh pendidikan, sudah ada dua grup Oglor di Dusun Krajan yang mulai berkembang.

Seni Oglor secara tradisional dipentaskan pada acara-acara ritual dan hajat tertentu, seperti:

  • Mitung Bengeni: Upacara tujuh malam bayi.
  • Mitoni: Upacara tujuh bulan bayi.
  • Ngaro Tengahi: Acara bayi berumur 1,5 tahun.
  • Pernikahan
  • Khitanan
  • Resepsi hari-hari besar Islam
  • Resepsi hari-hari besar Nasional

Selain itu, secara resmi, Seni Oglor Wonokarto juga telah menunjukkan eksistensinya di kancah yang lebih luas, termasuk:

  • Peresmian Monumen Tumpak Rinjing Pacitan
  • Festival Seni Budaya dengan menyertakan 20 Kelompok Salawatan di Pendopo Kabupaten Pacitan pada Tahun 1974
  • Festival Seni Budaya Tradisional Tingkat Provinsi Jawa Timur di Madiun pada Tahun 1997
  • Bersih Desa di Desa Donorojo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan pada Tahun 1999
  • Festival Seni Budaya Tradisional Tingkat Nasional di THR Surabaya pada Tahun 2001
  • Festival Seni Budaya Tradisional Tingkat Nasional di Malang, Jawa Timur, pada Tahun 2003
  • Festival Seni Budaya Tradisional di TMII Jakarta sebagai wakil Jawa Timur
  • Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) 2025, dengan penampilan tari Oglor massal melibatkan sekitar 200 peserta (SD, SMP, hingga SMA).

No More Posts Available.

No more pages to load.