Pacitanku.com, PACITAN — Ratusan pemuda di Kabupaten Pacitan kembali merawat tradisi kebersamaan melalui kesenian bambu rontek gugah sahur pada Minggu (22/2/2026) dini hari.
Berjalan kaki menyusuri jalanan kota dan permukiman, ketukan irama bambu yang berpadu dengan lantunan lagu Jawa ini menjadi harmoni indah untuk membangunkan warga bersantap sahur sekaligus menjaga warisan budaya lokal.
Kegiatan pelestarian budaya yang berlangsung sejak pukul 01.00 WIB hingga menjelang waktu imsak pukul 03.00 WIB ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata pengabdian generasi muda pada kearifan lokal.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Bangunkan Sahur, Tradisi Rontek Satukan Ratusan Warga Lintas Desa di Pacitan
Rontek, seni musik tradisional berbasis bambu ini, sukses menghadirkan nuansa khas Ramadan yang dirindukan masyarakat setiap tahunnya.
Keinginan menjaga warisan leluhur agar tidak lekang oleh zaman menjadi alasan utama para pemuda rela turun ke jalan di tengah dinginnya malam.
“Kegiatan rontek gugah sahur ini dilakukan seminggu sekali pada Minggu pagi untuk membangunkan warga, sekaligus menjalankan tradisi setiap bulan Ramadan agar tetap ada,” ujar Adi, salah seorang peserta rontek.
Pelaksanaan tradisi budaya ini tetap mengedepankan ketertiban masyarakat. Aparat kepolisian bersama petugas keamanan desa turut mengawal langsung kegiatan ini guna memastikan kenyamanan warga tetap terjaga.
Ardyan, salah satu tokoh yang terlibat, menaruh harapan besar agar rontek terus menjadi medium perekat tali persaudaraan antarwarga dan membawa dampak positif bagi lingkungan sosial.
“Mari kita laksanakan rontek gugah sahur ini dengan tertib, penuh tanggung jawab, serta tetap menjaga suasana yang aman dan kondusif,”tegas Ardyan.
Pemerintah desa setempat memberikan apresiasi tinggi atas antusiasme warga. Keterlibatan aktif generasi muda ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, tradisi rontek tetap hidup sebagai ruang interaksi, hiburan, sekaligus ibadah sosial yang berkelanjutan di Kabupaten Pacitan.












