Miris Generasi Muda Nol Budaya, Bimo Wayang Rela Jual Paket Edukasi Seharga Modal ke Sekolah

oleh -121 Dilihat
DARI LOKAL KE GLOBAL. Gunawan Bimo Putra menceritakan perjalanan karirnya dari cita-cita dalang hingga menjadi eksportir kerajinan wayang dalam tayangan siniar Kertas Kosong. Ia membuktikan seni tradisi Pacitan mampu bersaing di kancah internasional. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Keprihatinan mendalam atas rendahnya minat dan pengetahuan generasi muda terhadap seni tradisi mendorong Gunawan Bimo Putra, seorang pengrajin wayang asal Pacitan, untuk melakukan jemput bola melalui program inisiatif mandiri bertajuk Wayang Masuk Sekolah.

Demi memancing antusiasme pelajar dan menanamkan kembali kecintaan pada warisan leluhur, pria yang akrab disapa Bimo ini rela menjual paket wayang kertas lengkap dengan pewarna hanya seharga modal, tanpa mengambil keuntungan materi sedikitpun.

Langkah berani ini diambil Bimo karena ia menilai kondisi pengetahuan budaya anak muda saat ini sangat memprihatinkan atau hampir berada di titik nol.

Berangkat dari keresahan tersebut, ia rutin berkeliling ke berbagai lembaga pendidikan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selama dua tahun terakhir.

Dalam setiap kunjungannya, Bimo membawa media wayang berbahan kertas maupun kertas sak semen yang belum diwarnai untuk dijadikan sarana edukasi interaktif bagi para siswa.

Gunawan Bimo Putra menegaskan bahwa motif utamanya bukanlah bisnis, melainkan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan jati diri bangsa.

Paket wayang yang ia tawarkan kepada siswa hanya dibanderol seharga Rp5.000, nominal yang sudah mencakup satu unit wayang kertas dan sepuluh jenis warna cat.

Ia mengorbankan waktu, tenaga, dan potensi keuntungan finansial asalkan para siswa dapat merasakan kegembiraan dan keterikatan emosional saat proses mewarnai wayang tersebut.

“Adik-adik cukup beli ini satu Rp5.000 dapat 10 warna. Kalau dihitung itu tidak ada untungnya, tapi saya rela begitu yang penting wayang tetap jalan. Benar-benar nol pengetahuan pemuda sekarang, makanya harapan ke depannya semoga wayang kembali dicintai seperti zaman dulu,”kata Bimo dalam program siniar Kertas Kosong yang tayang di Pacitanku TV, dikutip pada Selasa (27/1/2026).

Respons positif yang ditunjukkan para siswa saat kegiatan berlangsung menjadi bahan bakar semangat bagi Bimo untuk tetap konsisten meski kerap menghadapi tantangan.

Ia berharap melalui metode pengenalan yang menyenangkan dan terjangkau ini, wayang tidak lagi dianggap sebagai barang langka atau sekadar pajangan museum, melainkan kembali menjadi bagian lumrah yang menghiasi dinding-dinding rumah masyarakat seperti masa lalu.

Bagi Bimo, wayang bukan sekadar benda seni, tetapi mengandung filosofi kehidupan tentang baik dan buruk manusia yang penting bagi pembentukan karakter.

Ia berpesan kepada seluruh generasi muda untuk mulai mencintai budaya sendiri sebelum terlambat, karena keberadaan budaya adalah identitas utama sebuah bangsa.

“Cintai budayamu, karena jati diri bangsa ada di budaya ini. Tujuan kita cuma pengen wayang tetap bertahan dan generasi muda tertarik lagi,” pungkasnya.

Video Cerita Bimo, Anak Muda Pacitan Pelestari Budaya Jawa Wayang | Podcast Kertas Kosong Eps. 52

No More Posts Available.

No more pages to load.