Digempur Online Shop, Pedagang Pakaian di Pasar Arjosari Pacitan Menjerit Omzet Merosot Tajam

oleh -175 Dilihat
MENUNGGU PEMBELI. Kateni (58), salah satu pedagang pakaian di Pasar Arjosari, Pacitan, termenung menunggu pembeli di lapaknya. Maraknya online shop membuat pendapatannya turun drastis hingga lebih dari 50 persen. (Foto: Wahyan Mustofa/Pacitanku)

Pacitanku.com, ARJOSARI — Pergeseran pola belanja masyarakat dari konvensional menuju platform digital atau online shop mulai memberikan dampak serius bagi sendi ekonomi pedagang kecil di daerah.

Kondisi memprihatinkan ini dirasakan secara nyata oleh para pedagang pakaian di Pasar Arjosari, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang kini harus berhadapan dengan penurunan pendapatan drastis akibat sepinya pembeli yang datang langsung ke pasar tradisional.

Salah satu pedagang yang merasakan dampak pahit perubahan zaman ini adalah Kateni. Pria berusia 58 tahun yang telah menggeluti usaha jual beli pakaian sejak tahun 2018 ini mengungkapkan bahwa situasi pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun silam.

Menurutnya, lorong-lorong pasar yang dulunya ramai oleh transaksi tawar-menawar kini tampak lengang, terutama di blok penjualan busana, seiring dengan semakin mudahnya masyarakat berbelanja melalui gawai pintar mereka.

Kateni menuturkan bahwa penurunan omzet ini tidak hanya dialami oleh dirinya seorang, melainkan menjadi keluhan kolektif para pedagang sandang di pasar tersebut.

Saat ditemui di lapak sederhananya, ia menceritakan perbandingan pendapatan harian yang dinilai sangat timpang.

Jika dahulu ia mampu membawa pulang penghasilan bersih sekitar seratus ribu rupiah per hari, kini untuk mendapatkan separuhnya saja terasa sangat berat.

AYO BELANJA. Suasana bagian depan Pasar Arjosari, Pacitan. Perubahan pola belanja masyarakat ke platform digital membuat pedagang konvensional kesulitan mempertahankan omzet harian mereka. (Foto: Wahyan Mustofa/Pacitanku)

“Sekarang bukan saya sendiri, banyak penjual pakaian di pasar ini yang merasakan hal yang sama. Sudah jauh berbeda dengan dulu sebelum online shop ramai. Dulu sehari bisa mendapatkan penghasilan sekitar seratus ribu rupiah. Sekarang menurun, paling hanya tiga puluh sampai empat puluh ribu rupiah,”keluh Kateni dengan tatapan nanar.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Sabtu (27/12/2025) dampak digitalisasi perdagangan ini memang tidak menghantam seluruh sektor di pasar secara merata.

Kios-kios yang menjajakan kebutuhan pangan dan bahan pokok sehari-hari masih terlihat sibuk dengan aktivitas transaksi, terutama pada pagi hari.

Pemandangan kontras justru terlihat jelas pada deretan kios pakaian yang tampak jauh lebih sepi pengunjung, menandakan bahwa preferensi masyarakat untuk membeli pakaian telah beralih ke toko daring, sementara pasar tradisional hanya menjadi tujuan untuk belanja kebutuhan dapur.

Di tengah situasi sulit ini, para pedagang seperti Kateni tetap bertahan dengan sisa harapan agar pasar tradisional dapat kembali bergairah.

Mereka sangat berharap masyarakat tidak sepenuhnya meninggalkan pasar rakyat dan kembali berbelanja secara langsung sebagai bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan ekonomi pedagang kecil yang kian terhimpit oleh kemajuan teknologi.

No More Posts Available.

No more pages to load.