Pacitanku.com, PACITAN – Rentetan bencana alam yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru-baru ini, memantik simpati mendalam sekaligus menjadi pengingat keras bagi masyarakat di daerah lain.
Kabar duka dari ujung barat Indonesia tersebut turut menyita perhatian Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pacitan, Arif Setia Budi.
Dalam sebuah kesempatan dialog, politisi yang akrab disapa ASB ini secara khusus menyampaikan belasungkawa dan mengajak masyarakat untuk mendoakan para korban yang terdampak.
“Pertama tentu kita mendoakan korban bencana alam, semoga korban bencana alam yang ada di Sumatera, Aceh dan sekitarnya diberikan kesabaran, dilindungi Allah SWT dan dimudahkan segala urusannya,”kata Arif Setia Budi dalam siniar atau Podcast Kertas Kosong yang tayang di kanal Youtube Pacitanku TV, dikutip pada Sabtu (20/12/2025).
Peristiwa di Sumatera tersebut seolah membuka kembali memori kolektif warga Pacitan akan bayang-bayang kelam bencana besar yang pernah melanda wilayah ini pada tahun 2017 silam.
Bagi Arif, pengalaman pahit masa lalu dan realitas bencana yang terjadi saat ini harus dijadikan rujukan keilmuan serta dasar teori yang kuat dalam memetakan potensi bahaya.
Terlebih lagi, Kabupaten Pacitan memiliki bentang alam yang unik sekaligus menantang dengan dominasi pegunungan hingga mencapai 80 persen serta pusat kota yang berbatasan langsung dengan bibir pantai.
Kondisi topografi yang sedemikian rupa menuntut perlakuan khusus dalam hal mitigasi bencana. Arif menyadari sepenuhnya bahwa beban keselamatan wilayah tidak mungkin hanya ditumpukan pada pundak pemerintah daerah semata.
Legislator Partai Demokrat ini menyerukan pentingnya sinergi yang solid antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan kesadaran murni dari masyarakat.
Menurutnya, keterbatasan sumber daya yang dimiliki pemerintah tidak akan mampu menjangkau seluruh titik rawan tanpa adanya campur tangan aktif dari warga.
“Bagaimana kita selalu mengedukasi masyarakat untuk menjaga istilahnya saluran atau tersier-tersier miring dan juga saluran air itu harus selalu dijaga. Tentu tidak bisa pemerintah daerah hanya sendirian, tapi juga harus didukung oleh pemerintah desa dan juga masyarakat secara keseluruhan di Kabupaten Pacitan,”jelasnya.
Salah satu solusi yang ditawarkan Arif adalah mengembalikan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan yang belakangan ini mulai tergerus oleh zaman.
Ia menyoroti penyusutan populasi tanaman penguat tanah di kawasan perbukitan yang semestinya menjadi benteng alami.
Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat untuk kembali menggalakkan penanaman vegetasi penahan longsor seperti bambu, kelapa, dan berbagai jenis tanaman kayu keras lainnya.
Selain faktor alam, tantangan terbesar dalam mitigasi bencana justru terletak pada upaya membangun mentalitas dan kedisiplinan publik.
Arif memberikan contoh perilaku sederhana namun berdampak fatal, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan di area perkotaan.
Puntung rokok hingga bungkus makanan yang sering dianggap sepele, lama-kelamaan dapat menumpuk dan menyumbat sistem drainase kota sehingga memicu banjir.
“Membangun kesadaran itu agak sulit, mendisiplinkan orang itu tidak mudah. Contoh di kota saja orang-orang masih buang sampah sembarangan, mulai puntung rokok sampai bungkus jajan. Kelihatannya kecil, tapi lama-lama menjadi ribuan sampah yang bisa membawa bencana banjir maupun longsor,”paparnya.
“Kita harus bersahabat dengan alam, kita hidup di dunia harus menghormati dan menjaga alam itu agar lestari,”imbuh legislator dari daerah pemilihan (dapil) VI Pacitan (Tulakan-Kebonagung) ini.
Dari sisi kebijakan anggaran, Arif memastikan bahwa DPRD Pacitan terus menjalankan fungsi pengawasan dan penganggaran secara optimal.
Meskipun kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pacitan tidak sebesar kota-kota metropolitan, pihaknya menjamin ketersediaan alokasi Biaya Tidak Terduga (BTT) sebagai dana cadangan darurat.
Ia menekankan perlunya kebijaksanaan dalam menyeimbangkan antara anggaran pembangunan rutin dengan dana kesiapsiagaan bencana demi menjaga stabilitas daerah.
Selain itu, Arif mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk terus meningkatkan literasi kebencanaan kepada masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Peringatan dini dari BMKG serta pemetaan curah hujan yang akurat dinilai sangat vital untuk memproyeksikan langkah antisipatif.
Ia berharap edukasi yang berkelanjutan dapat membentuk masyarakat yang tanggap dan memiliki jiwa gotong royong tinggi saat menghadapi situasi darurat.
“Yang paling penting adalah kita harus mengedukasi masyarakat agar mereka tanggap terhadap bencana. Kalau sewaktu-waktu terjadi bencana, masyarakat saling bantu membantu, itu yang penting,”pungkasnya.
Video Ketua DPRD Pacitan Bicara Bencana, Investasi & Nasib Anak Muda – Podcast Kertas Kosong Eps. 49












