Pacitanku.com, PACITAN-Kasus pernikahan dengan mahar fantastis Rp3 miliar yang melibatkan Tarman masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Pacitan.
Setelah terungkap bahwa mahar tersebut tidak benar-benar ada, publik pun bertanya-tanya, bagaimana secara psikologis seseorang bisa berani melakukan tindakan tersebut.
Menanggapi fenomena ini, Psikolog Pacitan, Ni Made Diyah Rinawardhani memberikan pandangan dari sisi psikologi secara umum.

Ia menegaskan bahwa pendapatnya tidak ditujukan secara khusus kepada pelaku karena tidak melakukan pemeriksaan langsung.
“Secara umum, kasus penipuan kerap terjadi karena adanya perilaku manipulasi emosi korban dengan memanfaatkan kelemahan tertentu,” ujar Made saat dimintai pandangan, Sabtu 13/12/2025.
Menurutnya, dari sisi pelaku, tindakan tersebut bisa dipicu oleh kemampuan memanipulasi emosi korban serta adanya bias kognitif, yakni kecenderungan mengambil jalan pintas demi mencapai tujuan.
Hal ini kerap dibungkus dengan citra diri yang dibangun seolah sebagai sosok baik, bertanggung jawab, atau bahkan hebat.
“Pelaku sering kali merasionalisasi perbuatannya untuk menjaga atau mempertahankan citra diri. Dalam beberapa kasus, bisa juga dipengaruhi gangguan kepribadian seperti narsistik, antisosial, atau kepribadian ambang. Bahkan, ada pula yang mengalami kecanduan berbohong,” jelasnya.
Sementara dari sisi korban, Made menyebut kerentanan psikologis menjadi faktor yang tak kalah penting.
Kondisi seperti kesepian, depresi, atau kurang percaya diri dapat membuat seseorang lebih mudah dimanipulasi melalui janji manis, bujukan, atau iming-iming kemudahan dan keuntungan.
Sebagai pembelajaran bersama, Made mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan tidak mudah percaya terhadap janji yang terdengar terlalu indah.
“Jangan mudah percaya pada janji manis. Cari penjelasan dan lakukan verifikasi. Jika seseorang berbohong, biasanya akan menghindar saat ditanya lebih detail, marah, atau justru menyalahkan orang lain,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengelola emosi sebelum mengambil keputusan, tidak terburu-buru menilai seseorang sebagai baik atau benar, serta membatasi pemberian informasi pribadi, baik di media sosial maupun kepada orang yang belum benar-benar dikenal.
“Membangun kesadaran diri, memperluas pergaulan, dan mencari informasi dari sumber yang dapat dipercaya adalah langkah penting agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan,” pungkasnya.










