Pacitanku.com, PACITAN – Kondisi proyek pengaspalan jalan provinsi di Kota Pacitan, khususnya di kawasan Jalan Basuki Rahmad, menuai sorotan dan keluhan dari masyarakat serta pengguna jalan.
Pekerjaan pengaspalan dinilai tidak maksimal karena meninggalkan permukaan jalan yang tidak merata, banyak mengumpal (menggumpal), dan kini diperburuk oleh tingginya curah hujan di Kota Pacitan.
Sutomo, salah seorang pengguna jalan, mengungkapkan kekecewaannya karena melihat pengerjaan aspal yang seharusnya di aplikasi dengan suhu panas tertentu justru diguyur hujan gerimis. Ia menduga kondisi ini diakibatkan oleh kurangnya suhu dan kadar aspal saat pengerjaan.
“Aspal yang seharusnya diaplikasikan dengan suhu panas tertentu, namun ini tidak. Bahkan waktu pengerjaan aspal dalam kondisi hujan gerimis. Tapi yang digelar terlanjur dingin, banyak yang aus, karena suhu dan kadar aspalnya kurang kayaknya, utara Pos Penceng/bawah lampu merah kan sudah rusak itu, Mas, yang sudah digelar. Kadar aspal sama suhu kurang,”kata Sutomo, Selasa (28/10/2025) di Pacitan.
Ia menambahkan, kondisi jalan pascaperbaikan tetap tidak bagus, sehingga ia berharap adanya pengawasan ketat dari dinas terkait.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Pemerintah Provinsi Jawa Timur, UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan di Pacitan, Budi Hari Santoso, membenarkan adanya masalah kualitas pada pekerjaan jalan tersebut. Ia menjelaskan bahwa perbaikan jalan di kawasan tersebut menggunakan jenis hotmix.
“Kami sudah cek lapangan. Dan memang banyak aspal yang mengumpal. Karena memang aspal digelar dalam kondisi suhu dingin,” jelas Budi Hari Santoso.
Ia memastikan, aspal yang mengumpal tersebut telah di-rejek (ditolak) atau di-afkir oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Sementara itu, yang tetap digelar adalah material yang masuk secara spesifikasi.
Proyek jalan provinsi di Kecamatan Pacitan yang dikerjakan oleh CV. EDOMIX ini diduga mengalami kendala pada temperatur suhu panas hotmix yang kurang dari 100 derajat, sehingga banyak yang menggumpal dan sulit digelar.
Selain masalah suhu, faktor lain yang disinyalir menjadi penyebab adalah kualitas bahan baku dari batu pecah yang kurang berkualitas dan hanya diperbanyak dengan aspal curah.
Melihat pekerjaan perbaikan jalan yang tidak maksimal ini, UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur memastikan bahwa proyek perbaikan ini tetap harus melaksanakan evaluasi pekerjaannya.
Imbasnya, kontraktor yang berada di bawah group Cahaya Indah dipertimbangkan untuk tidak berkontrak pada anggaran APBD tahun 2025 nanti.













