Pacitanku.com, NGADIROJO – Kunjungan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ke kediaman Wakil Bupati Pacitan, Gagarin, di Ngadirojo, Lorok, pada Kamis (25/9/2025) sore, menarik perhatian publik.
Setibanya sekitar pukul 13.10 WIB, SBY yang datang bersama rombongan langsung menyapa warga dan berbagi kenangan tentang keindahan Pacitan.
SBY kemudian disambut oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Wabup Gagarin, serta mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.
Mereka menikmati hidangan makan siang bersama di rumah yang berada di samping Terminal Ngadirojo tersebut, sembari berbincang santai selama kurang lebih satu jam.
Meskipun isu mengenai kepindahan Gagarin ke Partai Demokrat santer beredar, Gagarin dengan tegas menyatakan bahwa pertemuan tersebut tidak membahas politik dan murni berfokus pada semangat kemajuan Pacitan.
Ditemui wartawan seusai pertemuan, Gagarin menjelaskan bahwa tujuan utama SBY adalah memastikan seluruh elemen masyarakat Pacitan memiliki semangat untuk maju dan membangun.
“Tidak, tidak membicarakan politik. Kita itu cuma apa ya, Bapak SBY itu sebenarnya ingin gini lho, ingin memastikan Pacitan beserta masyarakatnya Pacitan itu tetap punya semangat ingin maju, ingin membangun itu saja, memastikan seperti itu. Dengan tetap berkolaborasi dan bersinergi,” ujar Gagarin.
Ia menegaskan bahwa ajakan SBY ini ditujukan kepada semua elemen masyarakat tanpa terkecuali.
“Ayo majukan Pacitan. Syukur bersinergi. Syukur berkolaborasi. Menjadi Pacitan yang integral, gitu. Untuk kemajuannya,”kata mantan politisi Partai Golkar ini.
Gagarin juga menekankan pentingnya persatuan dalam mewujudkan visi kemajuan daerah.
“Saya itu menyadari memajukan Pacitan ini, itu mestinya enggak mungkin sendirian. Tetapi memajukan Pacitan ini harus bersama-sama, berkolaborasi. Tidak mungkin kita mengedepankan ego kita masing-masing,”tandasnya.
Sebagai orang Jawa, Gagarin juga memaknai kehadiran SBY melalui pendekatan budaya, merujuk pada prinsip sasmita sing lantip (isyarat yang tajam), yang berarti pemahaman tidak harus disampaikan melalui ungkapan lisan.
“Saya ini orang Jawa, saya ini tirakat dengan (budaya) Jawa. Jadi orang Jawa itu kalau tentang sesuatu hal, memahami seseorang itu tidak harus lewat ungkapan, lewat bahasa. Tapi dengan sasmita itu sudah kita harusnya tanggap. Maknanya sasmita sing lantip (isyarat yang tajam),”pungkasnya.












