Pacitanku.com, PACITAN – Laga grand final Purwoasri Cup 2025 yang mempertemukan Ngadirojo dan Arjowinangun di Lapangan Gelora Buana Keling, Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung Pacitan pada Rabu (23/7/2025) sore berakhir dengan insiden kericuhan yang mencederai sportivitas.
Laga dua tim unggulan di Pacitan tersebut sejatinya berjalan seru dan berkesudahan 3-0 untuk keunggulan Arjowinangun.
Namun demikian aksi tak terpuji terjadi.
Ada oknum penonton merangsek masuk ke lapangan dan terlibat kontak fisik dengan para pemain, mengakibatkan seorang pemain Persinga Ngadirojo mengalami luka di bagian kepala.
Aksi tak terpuji tersebut juga terekam dalam video yang diterima redaksi Pacitanku.com.
Yahya, Ketua Persinga Ngadirojo, membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan kekecewaannya terhadap pengamanan panitia yang dinilai lemah.
“Pemicu kerusuhan ya tetap penonton yang masuk ke lapangan itu, seperti yang ada di video,” ujar Yahya, merujuk pada rekaman yang beredar, saat dihubungi Pacitanku.com, Kamis (24/7/2025).
Menurut Yahya, pemain yang menjadi korban sempat mendapatkan penanganan medis di lokasi, bahkan memerlukan pemberian oksigen akibat benturan keras di kepala.
Meskipun tidak sampai dirawat inap di rumah sakit, pemain tersebut masih merasakan sakit, terutama di bagian belakang kepala yang menjadi sasaran pemukulan.
“Sampai pagi tadi kami masih berkomunikasi dengan pemain, ya masih merasakan sakit tapi tidak sampai dirawat,” tambahnya.
Selain insiden kericuhan, Yahya juga menyoroti keputusan wasit yang dianggap merugikan timnya. Dua pemain Persinga diganjar kartu merah, salah satunya pemain bernomor punggung 3 yang menurut Yahya tidak terlibat dalam aksi pemukulan.
“Satu pemain kami yang bernomor punggung 3 itu lari untuk mengamankan diri, tidak melakukan pemukulan, tapi malah ikut dikartu merah. Jelas itu merugikan kami,” tegasnya.
Pihak Persinga juga melayangkan kritik tajam terhadap panitia penyelenggara terkait kurangnya kesigapan dalam menjaga keamanan pertandingan.
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi penyelenggara turnamen dan diharapkan menjadi bahan evaluasi serius guna mencegah terulangnya aksi kekerasan dalam ajang olahraga di masa mendatang.
“Kami memberi catatan untuk pihak panitia, kurangnya keamanan di setiap pertandingan. Kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi, dan kami rasa panitia harus berbenah, terutama terkait perlindungan terhadap pemain,” pungkas Yahya.











