Gali Sejarah Lokal, Grup Pacitan Usung Legenda Mbah Raden di Festival Ronthek 2025

oleh -213 Dilihat
Dengan mengusung tema “Laras Honocoroko”, kontingen ini mengangkat kembali kisah dan kearifan tokoh lokal, Mbah Raden, sebagai inspirasi utama penampilan mereka. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Ada yang berbeda dari penampilan Kontingen Kecamatan Pacitan dalam gelaran Festival Rontek Pacitan 2025. Dengan mengusung tema “Laras Honocoroko”, kontingen ini mengangkat kembali kisah dan kearifan tokoh lokal, Mbah Raden, sebagai inspirasi utama penampilan mereka.

Tema tersebut digali dari sejarah Dusun Keradenan, Desa Bangunsari, tempat Mbah Raden pernah menetap.

Menurut penuturan sejarah, Mbah Raden merupakan seorang bangsawan dari Yogyakarta yang mengembara ke Pacitan untuk mencari kedamaian di tengah konflik saudara yang melanda keraton. Beliau kemudian melakukan babat alas atau membuka lahan di wilayah yang kini menjadi Dusun Keradenan.

Pelatih Kontingen Kecamatan Pacitan, Jolie Slam, menuturkan bahwa pemilihan tema ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai warisan sejarah lokal yang kaya akan nilai-nilai luhur.

“Tema ini kita angkat supaya masyarakat juga tahu sejarah lokal, bahwa dulu ada sosok yang menjadi panutan bernama Mbah Raden. Beliau datang ke sini demi mencari kedamaian dan ketenteraman, hingga akhirnya menetap di Bangunsari,” ujar Jolie.

Dengan mengusung tema “Laras Honocoroko”, kontingen ini mengangkat kembali kisah dan kearifan tokoh lokal, Mbah Raden, sebagai inspirasi utama penampilan mereka. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Untuk memperkuat narasi dalam penampilannya, kontingen juga menghadirkan properti unik berupa watu lawang.

Properti ini merupakan replika dari batu yang diyakini sebagai tempat Mbah Raden bersemedi pada masa lampau, menambah sakral dan otentik penampilan mereka.

Meski dihadapkan pada kendala waktu persiapan yang singkat, Jolie mengaku salut dengan semangat dan kekompakan seluruh tim.

Menurutnya, berbagai pertemuan dan agenda lain membuat waktu latihan menjadi kurang ideal.

“Kendalanya memang waktu latihan kita belum panjang, sudah sangat mepet menjelang tampil. Tapi saya salut, semua tetap kompak dan siap memberikan yang terbaik,” tambahnya.

Lebih lanjut, Jolie berharap Festival Rontek Pacitan dapat terus berkembang dan menjadi potensi daerah yang istimewa. Ia bermimpi kesenian khas ini tidak hanya berhenti di tingkat kabupaten, tetapi juga dapat dikenal lebih luas hingga ke luar daerah.

“Harapan kami, festival rontek ini bisa terus maju. Semoga ke depan bukan hanya menjadi ajang di tingkat kabupaten, tapi juga bisa tampil di luar daerah sebagai salah satu ikon kesenian Pacitan,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.