Kecamatan Pacitan Angkat Isu Lingkungan di Festival Ronthek 2022

oleh -Dibaca 1,343 kali

Pacitanku.com, PACITAN – Gelar akbar festival rontek Pacitan 2022 (FRP) yang bertema Rontek Gedhen Akhir Tahun, membawa satu bentuk semangat dan warna baru.

Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, FRP kali ini secara visual terlihat lain. Nuansa glamour dengan audio yang menggelegar akan tidak  tampak pada FRP2022 kali ini.

Secara konsep, panitia FRP2022  menekankan pada eksplorasi dan kreasi  bunyi alat dari bambu (thetek) dan gerak tubuh, sehingga harapannya akan muncul satu bentuk pertunjukan yang apik.

Jadi bagi penonton jangan kaget jika FRP2022 yang digelar pada 16 Desember hingga 17 Desember 2022 akan sangat berbeda.

Merunut konsep dari panitia FRP 2022, salah satu peserta yaitu  kecamatan Pacitan, mencoba berani mengangkat  tema tentang lingkungan yang bertajuk Metamorfosa.

Menurut sutradara tim kecamatan Pacitan, pilihannya mengangkat tema lingkungan dengan judul Metamorfosa karena peristiwa tersebut, disadari atau tidak melingkar pada kehidupan setiap hari.

“Festival ini bukan sekedar lomba. Tapi festival ini sebagai batu loncatan untuk berproses, berkesenian, memahami lingkungan,”kata Pandu Sadeca, Sutradara tim rontek Pacitan, Kamis (15/12/2022).

Emosi cukup kental sangat terasa dimunculkan oleh penata musik melalui pola ketukan yang tidak stabil namun intens dari thetek, bedug, gong, kethuk kemyang (salah satu instrumen  gamelan), dan Rebana.

Penata musik cukup berani memilih pola ketukan tersebut karena ingin mendekatkan irama pada tema metamorfosa.

“Metamorfosa itu melingkar. Dan tidak tidak stabil. Dalam prosesnya banyak sekali dinamika. Tapi cukup intens karena terus melingkar. Itu yang ingin saya sampaikan,”jelas Ganang Kanaldi Elfad, penata musik.

Ungkapan serupa juga disampaikan oleh Rani Iswinedar, penata gerak tim rontek kecamatan Pacitan.

Baginya Metamorfosa adalah lingkaran tidak stabil namun intens dan indah. Sama dengan tubuh, ketidak stabilannya adalah dinamika yang harmonis karena kita hidup.

“Metamorfosa itu perubahan, adalah keharusan dalam putaran siklus kehidupan. Sama dengan tubuh yang terus berubah. Lingkungan sekitar kita menjadi cermin untuk kita belajar memaknai hidup,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.