Sejarah Festival Ronthek Pacitan dari Masa ke Masa

oleh -Dibaca 1,227 kali
Ronthek Panji Sanjaya Rangin dari Ngadirojo. (Foto: Istimewa)

Pacitanku.com, PACITAN – Setelah dua tahun sempat vakum, Festival Ronthek Pacitan rencananya akan kembali digelar pada Jumat (16/12/2022) hingga Sabtu (17/12/2022) mendatang. Festival ini disebut menjadi agenda seni budaya masyarakat Pacitan yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam sejarahnya, Ronthek sebuah acara sederhana yang digunakan untuk membangunkan warga melaksanakan sahur untuk ibadah puasa Ramadhan. Namun lambat laun, ronthek berubah menjadi kreasi tarian dinamis yang indah. Tahun 2011, festival Ronthek Gugah Nagari sampai tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) karena diikuti oleh 2.818 orang.

Ronthek adalah sejenis musik penggugah saat sahur di bulan puasa. Ronthek berasal dari kata “ronda thetek” yang merupakan alat musik sejenis kentongan untuk ronda atau siskamling, terbuat dari bambu yang dilubangi memanjang di bagian tengahnya.

Cara memainkannya dipukul-pukul dengan bambu juga sehingga terdengar alunan musik yang unik dan indah. Dahulu Seni Ronthek Gugah Sahur hanya dikombinasikan dengan instrumen musik tradisional seperti gong, kenong, suling, dan saron.

Namun, saat ini dikombinasikan juga dengan instrumen musik modern seperti saxophone dan bass drum. Tradisi ini mengutamakan kekompakan dan keserasian pemain alat musik, penari, dan pesinden.

Konsep dari kegiatan ini adalah perlombaan Ronthek yang diikuti oleh perwakilan desa/kelurahan se-Kecamatan Kota Pacitan dan perwakilan Kecamatan se-Kabupaten Pacitan.

Baca juga: Dua Tahun Vakum, Festival Ronthek Bertajuk ‘Pacitan Tumandang’ Kembali Digelar Bulan ini

Dalam sejarahnya, karena banyaknya kontestan yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, maka tidak jarang kegiatan ini berlangsung selama berhari-hari pada saat malam hari.

Yang menarik, dalam hajatan ini bukan sekadar adu kreasi memainkan instrumen musik saja melainkan menjadi karnaval malam hari yang disemarakkan dengan tarian dan berbagai penampilan untuk menarik perhatian.

Karnaval ronthek ini sangat meriah. Karena, selain para pemain ronthek yang berdandan layaknya pawai 17 Agustusan dan lebih kreatif lagi seperti Carnival yang digelar di berbagai kota.

Selain itu, setiap kelompok juga mendekorasi kendaraan menjadi aneka macam bentuk yang kreatif. Ronthek menjadi event budaya lokal yang menarik untuk di tunggu.

Festival Ronthek adalah satu khazanah seni budaya yang cukup menjadi hiburan yang menarik bagi masyarakat Pacitan, yang mulai digelar saat tahun 2011 atau saat tahun pertama Bupati Indartato menjabat.

Saat festival dimulai, ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Pacitan, karena pada saat itu, ribuan masyarakat Pacitan tumplek bleg menjadi satu di jalur protokol Pacitan.

Selain agenda inti adalah ronthek, biasanya para penari menampilkan busana unik khas Pacitan yang dipadukan dengan tarian menarik, seni musik dengan irama yang bagus, serta tidak ketinggalan properti yang digunakan menambah menarik acara tahunan ini.

Properti yang digunakan tersebut diantaranya adalah mobil yang dihias sedemikian rupa, kemudian kostum yang hampir sama dengan agenda budaya di berbagai kota besar di tanah air.

Juara Festival Ronthek dari masa ke masa

Pertama kali, Festival Ronthek digelar Tahun 2011 tepatnya 18-19 Agustus 2011. Saat itu belum berbentuk festival, melainkan adalah lomba, dimana pada  pertama ini dimenangkan oleh Ronthek dari Desa Sedayu Kecamatan Arjosari.

Pada tahun kedua, lomba Ronthek kembali diadakan di Bulan Agustus 2012. Kali ini ganti Desa Bangunsari Kecamatan Pacitan yang keluar sebagai pemenangnya.

Kemudian, pada tahun 2013 kembali diadakan Lomba Ronthek, kali ini penyelenggaraannya di bulan September 2013, dengan Desa Tanjungsari sebagai pemenangnya.

Tahun 2014 lomba ronthek diselenggarakan pada bulan Juli dengan perubahan ke arah Festival, sehingga juaranya diambil dari beberapa kategori yaitu penyaji terbaik, penata musik terbaik dan pelestari budaya.

Untuk hasilnya, lima penyaji terbaik adalah Desa Tanjungsari, Kecamatan Arjosari, Kelurahan Pucangsewu, Desa bangunsari dan Kelurahan Pacitan. Sedangkan tiga penata musik terbaik diraih oleh Kelurahan Baleharjo, Kecamatan Arjosari dan Kecamatan kebonagung. Untuk kategori pelestari budaya diraih oleh Desa Mentoro.

Pada tahun 2015, Ronthek Pacitan digelar pada 21-23 Agustus dalam rangka peringatan HUT ke 70 RI, untuk kategori lima penyaji terbaik, ada lima grup Rontek, yakni Desa Arjowinangun, Kelurahan Pucangsewu, Desa Menadi, Kecamatan Pringkuku dan Kecamatan Ngadirojo.

Sementara, untuk tiga penata musik terbaik jatuh ke tangan Desa Tanjungsari, Kecamatan Arjosari dan Kelurahan Pacitan. Sementara untuk kategori pelestari budaya jatuh ke tangan tim rontek Kecamatan Tegalombo.

Pada tahun 2016, Festival Ronthek Pacitan digelar pada 21-22 Agustus dengan hasil sebagai penyaji terbaik adalah tim dari kelurahan Pacitan. Kemudian tiga penata musik terbaik non ranking diraih Kelurahan Pacitan, Kecamatan Punung dan Kecamatan Kebonagung.

Dalam event tahun 2016, juga diperoleh tiga penata tari terbaik non ranking yang diraih Pucangsewu, Sidoharjo dan Ploso. Penghargaan lain adalah tiga penata properti/artistik terbaik non ranking yang diperoleh Ngadirojo, Pringkuku dan Baleharjo.

Pada tahun 2017, lima penyaji terbaik non ranking tahun 2017 diperoleh tim Ronthek “Songgolangit” Kecamatan Punung, tim Ronthek “Laskar Gempar” Kelurahan Pacitan, tim Ronthek “Jago Suroloyo” Kecamatan Tegalombo, tim Ronthek “Teratai Budoyo” Kecamatan Bandar dan tim Ronthek “Sawunggaling” Desa Menadi.

Pada tahun 2018 lalu, Grup Ronthek “Raung Bambu” Kecamatan Pringkuku akhirnya dinobatkan sebagai juara umum.

Untuk kategori penyaji terbaik juga didapatkan Grup Ronthek “Bina Sakti” Kelurahan Pucangsewu, “Mandala Gong 2000” Kecamatan Punung, “Laskar Gempar” Kelurahan Pacitan, “Raung Bambu” Kecamatan Pringkuku dan “Gringsing Sinampurno” Kecamatan Tegalombo.

Sementara, kategori penata musik terbaik didapatkan tim “Pring Sejati” Desa Bangunsari Kecamatan Pacitan, “Sekar Melati” Kecamatan Arjosari, “Ceria” Desa Tanjungsari, “Raung Bambu” Kecamatan Pringkuku dan “Gugah Rasa” Kecamatan Donorojo.

Setahun berselang, tahun 2019, Grup Ronthek Raung Bambu dari Kecamatan Pringkuku Kembali berhasil menjadi juara umum Festival Ronthek Pacitan tahun 2019. Dengan hasil ini, Pringkuku sukses mengulangi kemenangan tahun 2018 lalu yang juga sukses menjadi juara umum.

Pada tahun 2019, grup dari Pringkuku juga sukses meraih kategori penyaji terbaik dan penata musik terbaik.

Sebagai informasi, Grup Raung Bambu Pringkuku dua tahun berturut-turut menjadi juara umum Festival Ronthek. Pada tahun 2018 lalu, Raung Bambu membuat karya dengan judul “Sri Boyong.”

Sementara pada tahun ini, mengambil judul karya “Durbala Singkir”, menjadi salah satu penampil Ronthek paling istimewa sepanjang perhelatan Festival Ronthek tahun ini.

Setelah sempat diwacanakan akan diselenggarakan tahun 2020, Festival Ronthek vakum karena pandemi COVID-19 menghantam, hingga akhirnya direncanakan akan digelar akhir tahun 2022 ini.

Daftar Juara Festival Ronthek Pacitan dari Masa ke Masa

NoNama Tim/Desa/Kelurahan/KecamatanTahunWaktu pelaksanaan  Prestasi
1Desa Sedayu Arjosari201118-19 Agustus 2011Juara I
2Desa Bangunsari Pacitan2012Agustus 2012Juara I
3Desa Tanjungsari Pacitan2013September 2013Juara I
4Desa Tanjungsari, Kecamatan Arjosari, Kelurahan Pucangsewu, Desa Bangunsari dan Kelurahan Pacitan201422 – 24 Juli 2014Lima penyaji terbaik
5Desa Arjowinangun, Kelurahan Pucangsewu, Desa Menadi, Kecamatan Pringkuku dan Kecamatan Ngadirojo201521-23 Agustus 2015Lima penyaji terbaik
6Kelurahan Pacitan201621-22 Agustus 2016Penyaji terbaik
7Tim Ronthek “Songgolangit” Punung, tim Ronthek “Laskar Gempar” Kelurahan Pacitan, tim Ronthek “Jago Suroloyo” Tegalombo, tim Ronthek “Teratai Budoyo” Bandar dan tim Ronthek “Sawunggaling” Desa Menadi20174- 6 September 2017Lima penyaji terbaik non ranking
8Grup Ronthek “Raung Bambu” Kecamatan Pringkuku201830 Agustus – 1 September 2018Juara Umum
9Grup Ronthek “Raung Bambu” Kecamatan Pringkuku201912-14 September 2019Juara Umum
Keterangan: Tahun 2011 sampai 2013 bentuknya masih lomba, tahun 2014-2019 bentuknya Festival dengan beberapa kategori

Ronthek ‘Raung Bambu’ Kecamatan Pringkuku

No More Posts Available.

No more pages to load.