LKP Seni Pradapa Loka Bhakti Gelar Pentas Bulan Ndadari Secara Virtual

oleh -Dibaca 434 kali
Pentas Bulan Ndadari edisi 6 yang digelar pada akhir pekanlalu. (Foto: Tangkapan Layar Youtube Pradapa Loka Bhakti)

Pacitanku.com, PRINGKUKU – LKP Seni Pradapa Loka Bhakti dari Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku kembali menggelar pentas seni Bulan Ndadari edisi ke-6 yang diselenggarakan pada Sabtu (20/11/2021).

Direktur LKP Seni Pradapa LokaBhakti Dr Deasylina Da Ary dalam keterangan pers tertulis yang diterima Pacitanku.com mengatakan Pentas Bulan Ndadari (PBN) telah 6 kali terlaksana, yakni di tahun 2013, 2014, 2015, 2017, 2019 dan 2021.

“Tahun ini adalah penyelenggaraan yang ke-6 dan telah terselenggara pada tanggal 20 November 2021 yang lalu. Bentuknya adalah sebuah festival seni pertunjukan dari, oleh, dan untuk anak-anak, secara virtual melalui platform youtube dari channel LKP Seni Pradapa Loka Bhakti,”jelas perempuan yang akrab disapa Lina ini.

Lebih lanjut, Lina mengungkapkan ide awal lahirnya PBN ini didasari pada konsep peristiwa kehidupan di desa pada masa lampau. Jauh sebelum tenaga listrik masuk dan tersebar hingga ke pelosok-pelosok desa, masyarakat desa sangat menantikan datangnya bulan purnama.

“Pada saat inilah hampir semua masyarakat keluar rumah untuk berkumpul, bercengkerama, dan bergembira menikmati terangnya cahaya bulan. Bulan purnama menjadi peristiwa penting bagi kehidupan di desa, karena pada saat itu interaksi dan sosialisasi terjadi di antara mereka,”ujarnya.

Karena,kata Lina, bulan purnama adalah sarana pusat kegiatan dan kegembiraan masyarakat di kala itu.

Dalam penyelenggaraan edisi ke-6 kali ini, Lina mengatakan program acara PBN terbagi menjadi 2 bagian yaitu pra acara dan acara inti.

“Pada pra acara, dipertunjukkan karya musik Genjring, dan sebuah film dokumenter tentang Pacitanian Art-Edu, yaitu sebuah model Pendidikan seni berorientasi lingkungan yang diterapkan di LKP Seni Pradapa Loka Bhakti,”tukasnya.

Menurut dia, model pendidikan alternatif dengan materi latihan ketubuhan di lingkungan alam Pacitan, yang merupakan sebuah persilangan antara Seni, Pendidikan, dan Ilmu Pengetahuan tepatnya kehidupan prasejarah.

“Kondisi alam Pacitan yang lebih spesifik dengan gua, sungai dan pantai dapat memberikan tantangan kepada anak-anak untuk meningkatkan kemampuan dan sensibilitas motoriknya secara maksimal,”paparnya.

Selain itu, imbuh dia, batuan yang licin, arus air sungai yang deras, ombak yang kuat, gundukan-gundukan batu dan bukit karang, melatih tubuh anak-anak untuk memiliki fleksibilitas ketubuhan yang optimal.

“Latihan ketubuhan di lingkungan alam Pacitan menciptakan gaya hidup di mana tubuh berelasi dan harus mengalami cara-cara bergerak yang dibentuk oleh lingkungan alam tersebut. Gerakan-gerakan yang juga dapat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan syaraf-syaraf otak anak-anak sehingga berpengaruh pada ruang kreativitasnya,”jelasnya.

Selanjutnya pada program acara inti PBN, Lina mengatakan telah dipertunjukkan 11 karya tari hasil produksi LKP Seni Pradapa Loka Bhakti, yaitu Eklek (1978), Songkrek (2007), Kidung Beber (2013), Joring (2021), Ilir (2000), Jaran Kore (2001), Surup (2007), Kethek Ogleng (1993), Topeng Genjring (2015), Angleng Sayuk (1990), dan Ruung Sarung (2004).

Menurut dia, pada hakekatnya, PBN adalah sarana ataupun wadah anak-anak untuk berbahagia bersama teman-temannya, karena tugas utama anak adalah berbahagia.

Anak-anak yang bahagia, ujarnya, akan mudah menerima dan menyerap beragam informasi yang diterima panca inderanya. Mereka mudah menciptakan kreatifitas-kreatifitas dan mampu berpikir jernih. Ketika anak bahagia, jati diri dan karakter akan tertanam sejak dini.

Sehingga, Lina mengatakan tidak ada lagi kisah orang dewasa yang “bermain-main” dan bertingkah seperti anak-anak. Tidak ada lagi istilah “masa kecil kurang bahagia.” Karena “kebahagiaan adalah dasar kehidupan”.

Sementara, ketua LKP Seni Pradapa Loka Bhakti Sumiyati, S.Pd memandang hal ini penting bahwa pendidikan seni ini dapat mendukung dan memperkuat pendidikan yang anak dapatkan dari sekolah, dimana memberikan ruang lebih bagi kreatifitas serta untuk pengembangan budi pekerti dan karakter anak.

“Tujuan akhir dari ini semua adalah menumbuhkan spirit kemandirian dan jiwa kepemimpian (leadership) dalam diri anak. Yang senada dengan prinsip utama pendidikan serta tujuan pendidikan nasional kita, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya, manusia yang mempunyai karakter bangsa Indonesia yang berbudaya,”ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayu Aji dalam sambutannya secara virtual menjelaskan PBN adalah merupakan sebuah wadah untuk mempertunjukkan karya-karya seni, baik tari maupun musik oleh anak-anak Pacitan.

“Dari sisi Pendidikan, event ini dapat mendidik anak-anak untuk menjadi anak yang cerdas, berkarakter dan paham dengan seni budaya sendiri. Selain itu, event budaya Pentas Bulan Ndadari ini merupakan upaya untuk memperkenalkan budaya Pacitan ke kancah Nasional maupun internasional,”tandas dia.

Lebih lanjut Bupati berharap event PBN ini dapat berkembang menjadi event yang lebih besar dengan melibatkan sanggar-sanggar seni yang ada di kabupaten Pacitan, Jawa Timur, bahkan juga dari seluruh Indonesia dan dunia.

“Dan tentunya selain bermanfaat dari aspek budaya dan pendidikan, juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat pelem pada khususnya dan pacitan pada umumnya,”pungkasnya.