Efektivitas dan Efisiensi Isolasi Terpusat di Wisma Atlet Perlu Dipertimbangkan Lagi

oleh -Dibaca 474 kali
Wisma Atlet Pacitan disiapkan jadi tempat isolasi terpusat pasien COVID-19. (Foto: Istimewa)

Pacitanku.com, PACITANSatuan tugas (satgas) percepatan penanganan COVID-19 Pemkab Pacitan mempersiapkan dua lokasi, yakni Gelanggang Olahraga (GOR) Pacitan dan Wisma Atlet Pacitan menjadi tempat isolasi terpusat pasien COVID-19.

Hal itu disampaikan oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji usai meninjau dua lokasi tersebut bersama Dandim 0801/Pacitan, Sekretaris Daerah, Plt Kadinkes Pacitan dan BPBD Pacitan pada Senin (26/7/2021) kemarin.

Baca juga: Pacitan Siapkan Wisma Atlet dan GOR untuk Tempat Isolasi Terpusat

Terkait rencana itu, anggota Komisi II DPRD Pacitan Ririn Subianti secara umum sepakat dengan dimaksimalkannya kembali wisma atlet sebagai tempat isolasi terpusat.“Saya sepakat dengan akan kembali dimaksimalkannya wisma atlet sebagi tempat isolasi terpusat,”kata Ririn, saat dihubungi pada Selasa (27/7/2021).

Namun demikian, Ririn meminta kepada Satgas percepatan penanganan COVID-19 Pemkab Pacitan mempertimbangkan sisi efektivitas dan efisiensi wacana isolasi terpusat itu.

“Namun mohon dipertimbangkan dari sisi efektivitas dan efisiensi isolasi terpusat, kususnya bagi pasien positif COVID-19 dengan gejala ringan, jangan sampai pasien bergejala ringan mendapat layanan memadai disana, sementara pasien dengan gejala sedang bahkan berat justru mengalami keterlambatan dalam penanganannya,”jelasnya.

Menurut Ririn, saat ini yang banyak menjadi keluhan di masyarakat adalah banyaknya tenaga kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) yang terpapar COVID-19.

“Yang menjadi keluhan masyarakat saat ini, banyak Nakes Puskesmas maupun RS yang ‘tumbang’ karena terpapar COVID-19, ini juga yang menyebabkan Puskesmas banyak yang terpaksa tutup dan hanya melaksanakan layanan kesehatan di IGD,”papar legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Sehingga, dengan Nakes yang terbatas, kemudian sarana dan prasarana juga terbatas di Puskesmas, tentunya hal itu tidak memenuhi standart pelayanan pasien COVID-19.

“Mereka (nakes) terpaksa harus mendampingi pasien positif beberapa waktu di Puskesmas karena menunggu antrian kamar isolasi di RSUD, bahkan masyarakat ada yang sudah datang ke Puskesmas, tetapi begitu positif diminta pulang dan sampai rumah beberapa saat kemudian wafat,”jelasnya.

Skala prioritas saat ini, menurut Ririn, adalah kebutuhan oksigen yang dialami oleh pasien COVID-19. Sehingga intinya dalam penanganan COVID-19 ada rencana prioritas, dimana penyelesaian persoalan kelangkaan oksigen menjadi fokus utama.

“Langkanya oksigen juga perlu jadi perhatian pemerintah daerah, pengakuan keluarga pasien di RSUD, sempat kehabisan oksigen, sehingga menyebabkan saturasi  pasien semakin menurun dan bahkan ada yang sampai wafat, jangan sampai rencana isolasi terpusat itu justru mengesampingkan persoalan kelangkaan oksigen,”papar Ririn.

Lebih lanjut, Ririn mengungkapkan dalam situasi kondisi yang seperti ini, bukan saatnya untuk saling menyalahkan satu sama lain.

“Tetapi bagaimana kita saling bergandengan tangan, bekerja sama untuk menciptakan iklim yang mengarah kepada terkendalinya pandemi di Pacitan, apa yang kita bisa, ide yang kita punya, mari kita saling bersinergi,”pungkasnya. (red/DP)

Video PPKM Diterapkan, Bansos Diberikan, Semoga COVID-19 Bisa Dikendalikan