Kepala BPBD Pacitan: Masyarakat Harap Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem

oleh -13930 views
Ilustrasi Hujan Angin
Ilustrasi Hujan Angin

Pacitanku.com, PACITAN – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Didik Alih Wibowo mengimbau kepada masyarakat luas, utamanya mereka yang bermukim di kawasan rawan bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan seiring cuaca ekstrem hingga penghujung januari 2020.

“Seiring akan adanya cuaca ekstrim menurut rilis BMKG, masyarakat kami imbau untuk tetap waspada dan lebih berhati-hati,” kata Didik dalam siaran persnya, Sabtu (11/1/2020) di Pacitan.

Menurut Didik, ancaman bencana tersebut selain banjir dan tanah longsor, juga potensi terjadinya gelombang tinggi disertai badai.

“Tidak perlu panik, namun tetap siaga dan waspada. Apabila terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan, segera menghubungi pos-pos kebencanaan yang telah didirikan oleh BPBD maupun TNI/Polri. Selain itu, masyarakat kami harapkan lebih mempercayai rilis resmi yang disampaikan BPBD maupun BMKG,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, mantan Kabid Kewaspadaan Dini, Bekesbangpol ini meminta agar masyarakat sedari dini mempersiapkan diri dan berkemas.

Sebab sejauh ini memang belum ada pendekatan keilmuan maupun teknologi yang bisa memprediksi kapan terjadinya musibah bencana alam.

Kalak BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo. (Yuniardi Sutondo).

“Utamakan sesegera mungkin mengamankan dokumen-dokumen penting. Selain itu, juga persiapkan beberapa baju, selimut, obat-obatan, peralatan vital bagi wanita, anak-anak, serta uang tunai. Sehingga seandainya terjadi sesuatu, kita sudah siap untuk memitigasi diri,” pesan dia.

Sementara, Kepala UPT Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Dinas Kelautan Pemprov Jatim wilayah Pacitan, Ninik Setyorini, belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi melalui ponselnya, namun tidak diangkat.

Sementara itu, anggota Pos Kamladu Pacitan, Dwi Utomo menambahkan, sejak kemarin tinggi gelombang di perairan Pacitan mencapai 2,5 meter hingga 4 meter. Untuk itu, ia mengimbau bagi para nelayan agar lebih mengedepankan keselamatan diri dan materiil.

“Untuk nelayan andon, utamanya awak kapal sekoci masih banyak yang pulang kampung ke Sinjai, Sulawesi. Sedangkan awak kapal slerek paling dalam sehari hanya satu yang melaut. Selebihnya memilih buang sauh,” tutur Dwi, secara terpisah.

Menurutnya, selain faktor cuaca, cutinya kebanyakan nelayan andon dikarenakan saat ini belum musim ikan. “Sehingga mereka lebih memilih istirahat dan pulang kampung, sambil menunggu cuaca stabil,” pungkasnya.

Pewarta: Yuniardi Sutondo
Penyunting: Dwi Purnawan