Musim Panen, Harga Cengkih di Pacitan Anjlok

oleh -Dibaca 2.885 kali
HARGA ANJLOK. Petani cengkih di Pacitan mengeluhkan anjloknya harga cengkih kering di Pacitan. (Foto: Dokumentasi Pacitan ku/Dwi Purnawan)

Pacitanku.com, TULAKAN – Harga tanaman cengkih di Kabupaten Pacitan belum juga membaik. Warga setempat yang menikmati panen raya tahun ini belum bisa sumringah menyusul harga cengkih yang masih berada di kisaran angka Rp86 ribu per kilogram.

Roji, salah satu pengepul cengkih di lingkungan Kalitelu, Desa Bubakan Kecamatan Tulakan saat ditemui Pacitanku.com pada Minggu (29/7/2018) menuturkan bahwa harga tersebut berlaku untuk cengkih kering yang bersih.

” Untuk cengkih kering yang tidak bersih alias masih ada sisa-sisa gagang kami hargai Rp85 ribu per kilogram dan cengkih basah Rp29 ribu per kilogram,”katanya.

Sementara, salah satu petani cengkih dari Desa Kasihan Kecamatan Tegalombo, Sunartin menyebut hasil panen raya belum baik seperti beberapa tahun lalu yang mencapai Rp100 ribu per kg.

Di kebun seluas 25 are itu, Sunartin bersama suaminya Susianto memiliki sedikitnya 30 pohon cengkih yang rata-rata sudah berusia 20 tahun. Dari puluhan batang itulah, Sunartin dan Susianto memiliki pekerjaan sampingan sebagai petani cengkih, di lain profesi utamanya sebagai guru.”Harganya anjlok pak, tidak sesuai harapan,” ujarnya.

Ada indikasi panen raya sejak memasuki Juni hingga Juli ini rupanya menjadi pemicu merosotnya harga cengkih. Para petani cengkih di Desa Kasihan memanen cengkihnya saat bersamaan. Tentunya sudah menjadi hukum ekonomi. Dimana produksi melimpah, harga sudah pasti turun.

Perempuan yang akrab disapa Nartin ini mengeluhkan, saat ini harga cengkih kering di pasaran berada di kisaran Rp 85 ribu per kilogram. Sedangkan untuk cengkih basah bahkan sepertiganya. Hanya Rp 29 ribu per kilogram. Harga ini jauh dari harapan.

“Memang cengkih kering kan satu banding tiga dengan cengkih basah. Karena satu kilogram cengkih kering setara dengan 3 kilogram cengkih basah,” akunya.

Beberapa tahun lalu, sambungnya harga cengkih sungguh menjanjikan. Berada di kisaran Rp 150 ribu per kilogram untuk jenis cengkih kering.

Namun ia mengakui jika harga setinggi itu memang bisa didapat bila produksi cengkih langka.“Tahun lalu kan cengkih petani tidak ada yang berbuah. Karena terus diguyur hujan,”tandasnya.

Dari kalkulasinya, satu pohon cengkih rata-rata menghasilkan 5 kilogram cengkih kering, atau setara dengan 15 kilogram cengkih basah.

Jadi, bisa dihitung, dari 30 pohon yang ada di kebunnya, Nartin bisa memanen sekitar 150 kg cengkih kering atau sekitar 450 kilogram cengkih basah.

Itu berarti, dengan harga Rp 85 ribu per kilogram cengkih kering, dirinya bisa mengantongi hasil penjualan kotor Rp 12 juta-an. Dengan catatan, dirinya menjual cengkih tersebut kepada pengepul cengkih.

“Harga tersebut belum dikurangi biaya untuk membiayai operasional pekerja cengkih, kami membayar Rp50 ribu per hari, dan yang mempreteli cengkih kami bayar Rp10 ribu, kami juga masih dapat dari penjualan gagang cengkihnya Rp8 ribu per kg,”jelasnya.

Meski menghasilkan dua tahun sekali dengan harga anjlok, Nartin mengaku tetap bersyukur.

Kondisi serupa juga diutarakan petani cengkih Suparno yang tak menampik memasuki bulan Juli panen raya cengkih sudah terlihat. Bahkan dipredikisi masa panen bisa berlangsung hingga September-Oktober mendatang.

Suparno pun mengeluhkan jika harga cengkih kering relatif murah, hanya Rp 85 ribu. Harga itu jauh menurun dari tahun lalu yang masih berkepala seratus. “Sekarang memang panen raya, tapi harganya anjlok sekali, hanya Rp 85 ribu, itu pun cengkih keringnya, sebelumnya tidak sampai serendah ini, kami juga bingung,” keluhnya.

Dia kemudian membandingkan dengan harga cengkih di era Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Saat itu harga cengkih juga Rp85 ribu, tapi biaya produksi jauh lebih murah dan harga-harga kebutuhan pokok belum naik tinggi seperti saat ini,”tandasnya.

Suparno berharap, rendahnya harga cengkih tahun ini dicarikan solusi oleh pemerintah. Harapannya sederhana. Petani mendapatkan harga yang lebih layak di masa panen berikutnya.

Salah satu faktor lain serapan cengkih pun sangat bergantung pada produksi rokok. Bila produksi rokok menurun, maka serapan cengkih pun pasti menurun. Apalagi, 93% produksi cengkih ditujukan untuk industri rokok. Sejak 2016, serapan cengkih sempat berkurang lantaran adanya gerakan anti tembakau atau rokok.

Pewarta: Dwi Purnawan