Prosesi Hari Jadi Pacitan “Tirta Wening” dan “Rucuh Pace” Digelar Sederhana

oleh
Prosesi upcara adat Tirta Wening di Pendopo Kabupaten Pacitan. (Foto: Humas Pmekab Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Salah satu agenda inti dalam peringatan Hari Jadi Pacitan ke-273 pada tahun ini digelar sederhana. Dua upacara, yakni “Tirta Wening” dari Desa Sukoharjo dan “Rucuh Pace” dari Desa Nanggungan hanya dibawa beberapa orang perangkat dan masing-masing kepala desa ke pendapa kabupaten, Minggu (18/2/2018).

Pada tahun ini juga tidak ada upacara sepatu kuda atau barisan panjang prajurit pengiring seperti biasanya, sementara kostum yang dikenakan para undangan hanya setelan batik dan kopiah. Mereka pun hanya berasal dari pejabat dan tokoh masyarakat dilingkup kabupaten. Kontras memang dengan waktu yang sama setahun lalu.

Bupati Pacitan Indartato dalam sambutannya mengakatan bahwa hajatan kali ini memang masih diliputi suasana keprihatinan. Sebab, dipenghujung tahun lalu banjir bandang dan tanah longsor menyapu sebagian besar Pacitan.

Saat itu tercatat sebanyak 25 orang warga meninggal dan kerugian materiil mencapai ratusan miliar rupiah. “Kita sama-sama tahu. Bahwa kita baru saja mendapat ujian bencana. Yang sampai saat ini belum mampu kita pulihkan,” kata Bupati Pacitan Indartato.

Dia mengatakan bahwa makna ulang tahun hari jadi ada dua. Yakni bersyukur dan sarana evaluasi diri. Bersyukur atas apa yang telah dicapai serta evaluasi kekurangan-kekurangan maupun capaian. Dengan tujuan untuk menyejahterakan masyarakat.

Sejarah Tirta Wening dan Rucuh Pace

Bupati saat mengikuti rangkaian Hajatan 171 tahun 2016 lalu. (Foto: Humas Pemkab Pacitan)

Sebagai informasi, agenda upacara adat Tirta Wening ini masuk dalam rangkaian acara inti sejarah panjang Kabupaten Pacitan di desa cikal bakal Pacitan. Pacitan diketahui berasal dari dua desa yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kota Pacitan yaitu Desa Nanggungan dan Desa Sukoharjo.

Pacitan sendiri terambil dari kata Pace dan Ketan yang berasal dari Desa Nanggungan. Saat itu, ketika Pangeran Mangkubumi berperang melawan belanda dan mengalami kelelahan, Setroketipo yang waktu itu adalah seorang prajurit memberikan air dari buah pace, hingga akhirnya pangeran Mangkubumi sehat dan lebih kuat seperti sedia kala.

Desa Nanggungan sendiri dulunya adalah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Tumenggung Setroketipo dan Desa Sukoharjo dipimpin oleh Tumenggung Notopuro.

Dan berdasarkan sejarah, Tumenggung Notopuro adalah bupati pertama yang diangkat langsung oleh Kesultanan Solo dan Tumenggung Setroketipo adalah tumenggung kedua yang diangkat langsung oleh Kesultanan Yogyakarta.

Di Desa Nanggungan contohnya, setiap malam sebelum hari jadi Pacitan diadakan wilujengan berkumpul di pendopo peninggalan Tumenggung Setroketipo.

Di lokasi itu warga mengambil buah pace yang kemudian diolah menjadi minuman untuk dihantarkan ke pendopo Bupati Pacitan dan disajikan bagi tamu undangan dan warga yang datang ke Pendopo Kabupaten Pacitan.

Sementara, di Desa Sukoharjo diadakan ritual pengambilan air di sumur njero yang biasa disebut Ritual Tirtowening. Sumur njero adalah sumur peninggalan Tumenggung Notopuro yang selalu digunakan dalam hari jadi Pacitan, sumur ini digunakan hanya setahun sekali, setiap diadakan Ritual Tirtowening tersebut.

Bukan sembarangan ritual, proses pengambilan air dalam sumur njero haruslah didampingi juru kunci. Dalam prosesinya pun harus dimulai tepat pukul 24.00 WIB. Air yang diambil dari sumur akan diletakkan dalam kendhi, kemudian dibawa dan diberikan kepada Bupati Pacitan di Pendopo Kabupaten Pacitan. (Humas Pemkab/RAPP002)