Peduli Budaya, ini Cara Tri Ganjarwicaksono Lestarikan Wayang Beber Pacitan

oleh
PEDULI BUDAYA: Tri Ganjarwicak-sono dan anggota komunitas wayang beber kota rutin menggelar pementasan untuk mengenalkan seni budaya ke publik.
PEDULI BUDAYA: Tri Ganjarwicak-sono dan anggota komunitas wayang beber kota rutin menggelar pementasan untuk mengenalkan seni budaya ke publik. (Foto: HENGKY RISTANTO/ JPG)

Pacitanku.com, PACITAN – Kreativitas dalang dalam memainkan wayangnya melahirkan ragam seni wayang baru yang lazim disebut wayang kontemporer. Hal inilah yang terus dikembangkan oleh Tri Ganjarwicaksono dalam melestarikan wayang beber.

Berbeda dari kebanyakan wayang tradisional yang diiringi musik gamelan. Wayang beber yang ditampilkan pria bernama lengkap Tri Ganjarwicaksono itu bersama komunitas wayang beber kota tersebut dibuka dengan musik teknologi serba modern. Bukan alat musik gamelan seperti pada pagelaran wayang beber umumnya. Tapi, diiring oleh alat musik rebana dan ketipung. Perpaduan itulah yang kemudian disebut oleh sang dalang sebagai wayang beber kontemporer.

Ganjar mengatakan, wayang beber kontemporer ini sudah dikenalkannya ke publik sejak 2005 lalu. Selama 12 tahun, dirinya beserta wayang beber kota mampu mengenalkan seni budaya pewayangan asli Pacitan itu hingga ke luar negeri. Seperti, Perancis, Singapura, Malaysia dan Jepang. ‘’Biasanya ketika pentas dibantu sama teman-teman dari wayang beber kota,’’ katanya.




Lulusan SMK I Jogjakarta (sekarang SMKN 1 Kasihan) itu mengungkapkan, pengenalan wayang beber kontemporer tersebut sebagai wujud mengeksplorasi seni budaya lokal. Apalagi, ada aturan tidak tertulis atau sesuai adat yang berlaku bahwa pembawaan wayang beber tradisi hanya bisa dilakukan oleh dalang asli keturunan dari pembuat wayang beber tersebut.

Dia menambahkan, dibandingkan dengan wayang tradisi, perbedaan wayang kontemporer ini salah satunya terletak pada ekpresivitas dalang. Jika dalam wayang tradisi dalang masih menganut kaidah pakem pewayangan, maka pada wayang kontemporer dalang mengimajinasikan pakem tersebut. Sehingga cerita wayang disajikan dinamis dan acapkali ceritanya menjadi berbeda. ‘’Jadi istilahnya mengembangkan lagi dalam bentuk cerita yang baru,’’ tutur pria asal Lingkungan Pojok, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan tersebut.

Selain alur ceritanya, Ganjar mengaku penyajian wayang beber kontemporer juga berbeda dengan wayang beber tradisi. Menurutnya, untuk wayang beber tradisi biasanya diiringi musik gamelan. Sedangkan wayang beber kontemporer diiringi oleh alat-alat musik modern. Seperti drum, gitar, rontek, bahkan disc jockey (DJ). ‘’Di samping itu, untuk wayang kontemporer dalam satu jagong (frame) bisa terdiri dari berbagai cerita atau topik. Sedangkan wayang beber tradisi satu jagong, satu cerita,’’ jelasnya.

Sedangkan untuk cerita yang biasa dibawakan dalam pementasan wayang beber kontemporer, lanjut Ganjar, lebih condong pada kritik sosial. Mulai dari masalah pertanian maupun berbagai peristiwa yang terjadi saat ini. Artinya, tidak seperti seperti wayang beber tradisi pada umumnya, yang melekat hanya pada cerita tentang Mahabarata maupun Ramayana. ‘’Contoh ketika kita ngomong tentang pasar tradisional. Jadi ceritanya mengenai perubahan pasar tradisional menjadi pasar modern,’’ pungkasnya.

Liputan oleh: HENGKY RISTANTO/Jawa Pos Group