Jembatan Roboh, Pemdes Kebondalem Pasang Jembatan Darurat dari Bambu

oleh -Dibaca 1.535 kali
Jembatan Kebondalem diterjang banjir. (Foto: Isnandir/Pacitanku CJ)
Jembatan Kebondalem diterjang banjir. (Foto: Isnandir/Pacitanku CJ)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Bencana demi bencana mengintai Pacitan. Terbaru, akses utama warga empat dusun di Desa Kebondalem, Kecamatan Tegalombo terancam terputus. Itu menyusul robohnya dua tiang penyangga jembatan Kebondalem di sungai Grindulu, minggu lalu.

Saat ini, warga dan pemerintah desa setempat berinisiatif memasang bambu sebagai tiang penyangga pengganti. Tidak diketahui berapa lama lagi bambu tersebut sanggup menahan beban jembatan dengan panjang 100 meter tersebut. ‘’Ambrolnya karena hujan lebat seminggu terakhir. Aliran air sungai Grindulu jadi semakin besar,’’ ujar Budi Kuswanto, warga yang tinggal tidak jauh dari jembatan Kebondalem, kemarin, dilansir Radar Madiun.

Budi menuturkan jembatan desa Kebondalem itu mulanya dalam kondisi baik-baik saja. Pada hari Minggu lalu, hujan lebat yang mengguyur sejumlah wilayah di Pacitan, membuat debit air sungai Grindulu menjadi lebih besar.




Masalahnya, aliran sungai Grindulu di sekitar jembatan tidak merata. Adanya penumpukan sedimen membuat seluruh debit air hanya bisa lewat di sisi selatan sungai. Karena lebar aliran air tidak sebanding dengan debit air yang bertambah, dua tiang penyangga jembatan pun roboh.

Tidak hanya itu, talut di selatan sungai tersebut juga ambrol. ‘’Warga dan pemerintah desa lalu memasang dua bambu sebagai pengganti tiang penyangga sementara,’’ terangnya.

Yang membuat semakin miris, dengan kondisi yang nyaris roboh, jembatan tersebut merupakan salah satu jalur akses utama warga desa. Kepala Desa Kebondalem, Mahrubin, menjelaskan jembatan desa tersebut menghubungkan empat dusun, yakni Mujing, Kitri, Pengkol, dan Tambaksari.

Kebanyakan warga yang mengendarai roda dua melewati jembatan tersebut. Sementara roda empat, memutar melalui Desa Gedangan, sejauh empat kilometer. Tidak hanya menghubungkan empat dusun, jembatan tersebut juga menjadi jalur alternatif menuju Desa Kalikuning, Tulakan. ‘’Banyak sekali warga yang melalui jembatan ini. Selain lokasinya yang dekat pasar, juga dekat dengan sejumlah sekolah,’’ jelasnya.

Selain memasang bambu sebagai pengganti sementara tiang penyangga jembatan, Mahrubin juga berharap Pemkab Pacitan melakukan pengerukan sedimen sungai Grindulu di sekitar jembatan. Tujuannya, memecah aliran air agar tidak menumpuk di sisi selatan jembatan.

Untuk jangka panjangnya, Mahrubin mengajukan rehab permanen di tahun 2018. Yang juga diinginkan, menambah lebar jembatan agar bisa dilalui kendaraan roda empat (R4). ‘’Karena jika setiap pagi dan sore, jembatan itu selalu macet. Yang lewat mulai pedagang, siswa sekolah, sampai karyawan,’’ terangnya. (naz/rif)