Makna Spiritual Hari Jadi Pacitan: Dari Gerakan Subuh Berjamaah 272 Hingga Pesan untuk Para Pemimpin

oleh -101.298 views
Suasana subuh berjamaah di Pacitan, via IG @fza_mw
Suasana subuh berjamaah di Pacitan, via IG @fza_mw

Pacitanku.com, PACITAN – Momentum Hari Jadi Pacitan (Hajatan) ke-272 menjadi satu agenda menyejarah yang diperingati setiap tahun. Di momentum ini, banyak pesan khusus yang tersirat, salah satunya adalah pesan spiritual. Pesan spiritual Hajatan ke-272 tersebut tersurat dalam momentum Gerakan Subuh Berjamaah 272 dan pengajian akbar yang digelar Jumat (17/2/2017) dan Sabtu (18/2/2017) hari ini.

Dalam gelaran sholat subuh berjamaah yang digelar di Masjid Darul Falah Pacitan, pesan yang tersirat sebagaimana disampaikan panitia dan pentausiyah Ustadz Hamid Noor Yasin adalah semangat untuk senantiasa membumikan gerakan sholat subuh berjamaah bagi masyarakat Pacitan.

Tak hanya pesan membumikan shubuh berjamaah, pesan spiritual lain adalah sikap yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, sebagaimana tausiyah KH Nafi’an,  pengasuh Ponpes Nurul Yaqin, Karanganyar saat pengajian akbar di alun-alun Pacitan, Jumat malam.

Menurut Kh Nafi’an, pemimpin yang baik harus memiliki tiga sifat dasar. Ini seperti digambarkan oleh pujangga kenamaan Jaya Baya dengan norma Sinatriya Pandhita Sinisihan Wahyuning Ilahi. Satriya, menurut KH Nafian berarti seorang pemimpin harus memiliki watak kesatria.

Saat dihadapkan tantangan, pemimpin harus berada di garda depan untuk menyelesaikannya. Dalam hal ini, pemimpin sekaligus berperan menjadi panutan rakyat yang dipimpinnya.

Sedangkan sifat kedua, Pinandhita bermakna seorang pemimpin harus memiliki rasa welas asih terhadap sesama tanpa memandang kelas sosial maupun golongan. Pemimpin yang memiliki jiwa Pinandhita sekaligus berwatak amanah. Yakni tidak menyalahgunakan kewenangan yang dimiliki.




Sifat terakhir adalah Sinisihan Wahyuning Gusti. Artinya, seorang pemimpin yang ideal adalah yang selalu bertindak dalam rambu-rambu agama. Ini diwujudkan dengan amal shaleh serta peduli dengan mereka yang membutuhkan pertolongan.

“Pemimpin harus siap menerima sesamanya serta harus menyampaikan apa yang menjadi hak rakyatnya. Jika pemimpin tidak memiliki rasa welas asih maka yang akan terjadi adalah pergolakan di mana-mana,”katanya lagi, dilansir laman Pemkab Pacitan.

Turut hadir dalam agenda tersebut adalah Bupati Pacitan Indartato, Wakil Bupati Yudi Sumbogo, serta unsur Ketua DPRD masing-masing bersama isteri. Hadir pula anggota Forkompimda dan jamaah dari sejumlah elemen masyarakat.

Dalam pengajian akbar tersebut juga digelar penyaluran bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pacitan senilai Rp 509,1 juta. (RAPP002)