Banjir Batu Arjosari yang Membawa Berkah Bagi Warga

oleh -Dibaca 1.975 kali
Lokasi bencana alam banjir batu di Arjosari. (Foto: Doc Info Pacitan)
Lokasi bencana alam banjir batu di Arjosari. (Foto: Doc Info Pacitan)

Pacitanku.com, ARJOSARI – Bencana banjir batu di dusun Wonosari, Karangrejo, Arjosari membawa berkah bagi masyarakat sekitar. Material batu mencapai lebih dari ribuan kubik melimpah ruah. Menjual bebatuan itu pun menjadi pilihan bagi warga sekitar dalam menambah pemasukan.

Upaya itu sekaligus untuk membantu evakuasi material bebatuan dari infrastruktur serta daerah aliran sungai (DAS) anak sungai Grindulu. ‘’Menyingkirkan bebatuan ini caranya ya dengan dijual,’’ ujar salah seorang warga setempat, Tugimin, baru-baru ini, sebagaimana dikutip laman Radar Madiun.

Tugimin mengungkapkan, awalnya sudah tiga tahun terakhir dia menjadi penambang batu. Memecah batuan dari anak sungai Grindulu, lalu menjualnya. Semenjak banjir batu mulai melanda tahun lalu, bebatuan melimpah ruah di sana.

Pendapatannya juga langsung naik seratus persen. ‘’Memecah dan menjualnya (material bebatuan) seharian jelas tidak akan selesai. Tinggal memecah dan jual saja. Tidak perlu memikirkan bahannya,’’ ujarnya.

Biasanya, Tugimin mampu meraup Rp 200 ribu dalam satu hari. Nominal sebanyak itu adalah laba yang didapatnya dari menjual bebatuan sebanyak satu bak truk penuh. Sebelum terjadi banjir batu, biasanya paling banter rata-rata laba penjualan yang didapat Rp 50 ribu hingga Rp 120 ribu. Pembelinya paling banyak berasal dari wilayah Arjosari dan Pacitan. ‘’Alhamdulillah selalu ada yang membeli setiap harinya. Kalau tidak dibantu dengan menjual, ya tidak akan habis,’’ terangnya.




Senada, Marsudi kini juga menjual bebatuan bersama temannya. Dia mengambil bebatuan dari DAS anak sungai Grindulu, lalu menatanya di tepi jalan sebelum titik terjangan banjir batu. Pembeli yang datang menggunakan truk tinggal berhenti di samping tumpukan bebatuan itu dan membuka baknya.

Selebihnya, pekerjaan Marsudi. Dia rela bekerja pagi hingga sore untuk itu. Sebab, pendapatannya juga lumayan. ‘’Pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp 500 ribu sehari. Namun itu dibagi dengan teman-teman. Itu juga didapat dari dua sampai tiga truk yang datang,’’ kata Marsudi.

“Kualitas batunya memang lebih bagus dan kekerasannya cukup tinggi dibanding batuan yang ada di bawah,” kata Watini, warga lainnya.

Menurutnya, selama ini warga mengandalkan perekonomiannya dengan menambang batu secara manual. Untuk memenuhi satu dump truk (sekitar 4 kubik lebih) saja‎, butuh waktu berhari-hari.”Akan tetapi dengan terjadinya banjir batu kemarin, warga seperti mendapatkan durian runtuh. Sebab tanpa harus menambang, batu sudah datang di depan mata. Kami tinggal memungutnya. Sehari bisa mencapai lima kubik lebih,”jelasnya.

Sementara itu menurut Teguh, penambang batu lainnya, mengatakan, saat ini harga satu dump truk batu gunung sudah mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. “Hari ini saya dengan dibantu istri bisa mengumpulkan satu dump truk,” katanya. (RAPP002)