SBY: Islam dan Demokrasi di Indonesia Saling Menguatkan

oleh -Dibaca 1.050 kali
SBY di amerika (Foto: Fanpage SBY)
SBY di amerika (Foto: Fanpage SBY)
SBY di amerika (Foto: Fanpage SBY)
SBY di amerika (Foto: Fanpage SBY)

Pacitanku.com, INDIANA – Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato kunci di Hesburgh Library Penthouse, Indiana, Amerika Serikat. Kegiatan ini dilangsungkan dalam rangkaian kunjungan kerja SBY ke University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat, Rabu (10/6/2015).

SBY diundang untuk menjadi pembicara dengan tema ‘Islam di Indonesia menjadi kekuatan bagi perdamaian dan demokrasi’ menjadi topik inti dari pidato kunci SBY. SBY meyakini, Islam di Indonesia saling menguatkan, karena keudanya adalah kekuatan bagi perdamaian dan demokrasi, dan bukan hanya secara internal di Indonesia, tetapi juga secara eksternal di dunia Islam dan di luar.

Yang menarik, menurut SBY, adalah bahwa di Indonesia partai-partai Islam baru tidak menyerukan negara Islam. Bahkan, partai-partai Islam menjadi pendukung kuat demokrasi, pertumbuhan partai-partai Islam ternyata kompatibel dengan perkembangan demokrasi. Gagasan negara Islam tidak akan memenangkan suara di Indonesia yang telah memutuskan bahwa bangsa Indonesia ingin hidup sebagai negara yang dihormati keberagaman dan kebebasan beragamanya.

“Apa yang unik tentang Indonesia adalah gabungan antara Islam dan demokrasi berlangsung tanpa adanya perdebatan atau pertumpahan darah,” SBY menjelaskan, sebagaimana dilansir laman Fanpage pribadinya, Jumat (12/6/2015).

Di Indonesia modern saat ini, umat muslim hidup berdampingan secara damai dengan orang-orang umat beragama lainnya. SBY menilai, ada faktor lain mengapa Islam dan perkembangan demokrasi kompatibel, yaitu kekuatan masyarakat sipil di Indonesia itu sendiri.

Di sisi lain, SBY menyadari bahwa banyak Muslim yang prihatin melihat pertumbuhan Islamophobia di dunia Barat, dan demikian pula sebaliknya, dimana dunia Barat yang juga mencemaskan tentang paham ‘Anti-Barat’. SBY merasa bahwa Indonesia bisa memainkan peran yang konstruktif dalam menjembatani hubungan Islam dan Barat, karena di Indonesia, baik peradaban Barat dan Islam telah menjadi bagian dari kebangsaan modern kita.

“Sebagaimana telah kita lihat pada berbagai kesempatan, bentrokan antara Islam dan Barat bisa meledak. Kita perlu membangun babak baru dari kehidupan kita di mana kebebasan berbicara dan permintaan untuk menghormati agama dapat ditampung dalam keadaan yang damai dan harmonis. Ini akan menjadi resep yang besar untuk peradaban yang lebih baik,” ujar SBY.

University of Notre Dame atau nama lainnya University of Notre Dame du Lac adalah sebuah universitas Katolik Roma yang berada di South Bend, Indiana, Amerika Serikat. Universitas ini didirikan oleh Rev. Edward Sorin, CSC pada 26 November 1842. Pada awal berdirinya, universitas ini hanya diperuntukkan untuk laki-laki saja.

Namun, pada tahun 1972, universitas ini mulai membuka pendaftaran untuk perempuan, dan sejak tahun 2013, 48 persen dari total pelajar yang ada disana adalah perempuan. Universitas ini juga termasuk dalam salah satu universitas terfavorit di Amerika. Salah satu tokoh dunia yang merupakan alumni dari universitas adalah mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice.

Saat ini, University of Notre Dame memiliki sekitar 5 colleges dan 1 sekolah profesional, serta 15 jurusan program master dan 26 jurusan program doktoral. (RAPP002)