Masyarakat Diminta Waspada Beras Palsu Plastik

oleh -Dibaca 1.041 kali
indartato sidak beras. (Foto : SKPD Pacitan)
indartato sidak beras. (Foto : SKPD Pacitan)
indartato sidak beras. (Foto : SKPD Pacitan)
indartato sidak beras. (Foto : SKPD Pacitan)

Pacitanku.com, JAKARTA – Masyarakat kini harus lebih waspada saat membeli beras. Pasalnya, kini ada beras plastik yang beredar di pasar. Yang terbaru, Walikota Bekasi Rahmat Effendi memastikan sampel beras yang diambil dari Pasar Mutiara Gading Timur terbukti mengandung plastik.

Hal tersebut sesuai dengan hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bekasi di laboratorium Sucofindo, di Cibitung, Jawa Barat. “Plastik polivinil yang digunakan untuk membuat beras itu bahan yang sama untuk membuat pipa paralon. Jadi kalau kita makan beras tersebut, sama saja kita menelan pipa paralon,” kata Rahmat di Bekasi, Kamis (21/5).

Sementara, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel meminta masyarakat juga turun tangan langsung dalam melakukan pengawasan. Dia mengimbau masyarakat segera melapor jika menemukan beras dengan tampilan aneh.  Gobel yakin, cara itu akan mempersempit ruang gerak pengedar beras palsu tersebut. “(Masyarakat) segera lapor, kalau ada laporan saya akan cek langsung,” tandas menteri sekaligus pengusaha itu.

Kasus Beras Plastik Sejak Tahun 2011

Kasus beras plastik yang sedang ramai diperbincangkan banyak pihak ternyata tak hanya muncul belakangan ini. menurut laporan yang dihimpun Korea Times, ternyata beras plastik China telah beredar sejak empat tahun lalu alias tahun 2011.

Laporan tersebut menyebut bahwa berbagai perusahaan China telah memproduksi beras palsu yang dicampur dengan plastik. Beras palsu itu pun dijual secara massal di China, antara lain di Taiyuan, Shaanxi yang dibuat berdasarkan campuran kentang dan ada juga plastik.

Lebih gawat lagi, laporan dari The Global Times menyebutkan pada Juli 2010 perusahaan di Xi’an, Shaanxi memalsukan beras Wuchang yang mahal dengan mencampur nasi biasa. Yang membedakan antara beras sintetis dan tidak adalah bahwa setelah proses pmasakan, beras sintetis relatif membtuhkan waktu lebih lama pada proses pemasakan.

Di Indonesia, pada tahun 2011 sebenarnya juga sudah ada laporan terkait adanya beras palsu ini, setelah adanya laporan dari pedagang makanan di daerah Bekasi Jawa Barat. Beras yang umumnya dihasilkan dari tanaman padi, dibuat menggunakan campuran ubi, kentang, dan resin sintetis.

Padahal, resin sendiri merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk pembuatan pernis, perekat, pelapis, bahan campuran dupa, parfum, dan juga sering digunakan dalam pembuatan botol minuman plastik dan alat-alat rumah tangga lain yang berbahan plastik.

Dampak bagi kesehatan apabila terpapar resin antara lain merusak sistem hormon pada tubuh, dapat meningkatkan pertumbuhan sel kanker, mengganggu pertumbuhan janin, dan gangguan kesehatan lainnya.

Kenali Karakter Beras Plastik

Hebohnya beras plastik yang beredar di pasaran membuat masyarakat khawatir dalam mengkonsumsinya. Tak hanya itu, beredar juga video yang diunggah dari Youtube memperlihatkan proses pembuatan beras plastik.

Beredarnya video beras plastik palsu ditanyakan keabsahannya, karena video tersebut adalah pabrik pembuatan biji plastik. Harganya yang mahal juga membuat mereka ragu biji plastik itu digunakan untuk membuat beras.  Padahal ada cara lebih mudah mengenali beras plastik yang beredar di Bekasi .

  1. Jika beras tenggelam di dalam air berarti bukan jenis Polypropylene (PP) atau plastik yang mudah dibentuk ketika panas, Polyetylene (PE) atau bahan yang biasa digunakan di kantong plastik, ataupun polyolefin lainnya.
  2. Bakar sampel beras tersebut, lihat hasilnya apakah meleleh atau tidak. Jika meleleh itu berarti beras palsu
  3. Kemudian larutkan di dalam air panas. Jika tekstur mirip bubur maka beras tersebut tidak mengandung bahan plastik.
  4. Beras plastik bening dan mengkilap
  5. Beras asli kalau dipotek sama kuku bakal patah kalau beras palsu tidak
  6. Beras plastik kalau dibakar, aromanya khas plastik

(RAPP002/Gulalives)