PSK di Jatim Tersisa 265 Orang, Tersebar di Ponorogo dan Mojokerto

oleh -Dibaca 1.187 kali
PSK gang DOlly (Foto : radarjatim)
PSK gang DOlly (Foto : radarjatim)
PSK gang DOlly (Foto : radarjatim)
PSK gang DOlly (Foto : radarjatim)

Pacitanku.com, SURABAYA – Pasca penutupan lokalisasi terbesar di Indonesia, Gang Dolly beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mencatat para Pekerja Seks Komersial (PSK) semakin sedikit.

Berdasarkan data yang dimilika Sekretariat Daerah (Setda) Pemprov Jatim, saat ini di Jatim tersisa 265 PSK, yang semuanya berada di dua lokalisasi, yakni Kabupaten Ponorogo dengan jumlah 176 PSK dan Kota Mojokerto sebanyak 89 orang.

Menurut Ratnadi Ismaon, Kepala Biro Administrasi Kesejahteraan Rakyat Setda Pemprov, angka ini sudah jauh menurun dari jumlahnya, yang pada 2012 atau sebelum dimulainya program penutupan lokalisasi, yakni 7.127 orang yang tersebar di 47 lokalisasi se-Jatim.

Rencananya, Pemprov Jatim segera menutup kedua lokalisasi tersebut, tepatnya April 2015 di Ponorogo dan selanjutnya di Mojokerto. “Untuk yang di Mojokerto masih belum jelas kapan ditutup, tapi, prinsipnya tahun ini sudah tuntas ditutup semua,” katanya.

Pihak pemerintah pun akan terus melakukan pendekatan guna menutup tuntas lokalisasi di seluruh Jatim. Sementara, terkait program penutupan lokalisasi di Ponorogo, kata dia, sudah ada bantuan dari Kementerian Sosial Rp5,050 juta per orang untuk jatah hidup, modal usaha dan bantuan transportasi. Sementara di Mojokerto dianggarkan Rp3 juta per WTS. “Tapi, kalau yang sudah dibantu pusat, pemprov tidak menganggarkan dan mungkin bisa membantu warga terdampaknya,” imbuhnya

Terpisah, Gubernur Soekarwo membenarkan masih ada dua lokalisasi di Jatim yang masih beroperasi dan menargetkan tahun ini ditutup. Ia menyebut bahwa koordinasi terus dilakukan dan akan segera ditutup.

Selain masih ada yang menentang penutupan lokalisasi itu, kata dia, tapi Pemprov Jatim optimistis ditutup, salah satu caranya terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Wali Kota Mojokerto agar program Jatim bebas lokalisasi segera terwujud.

Untuk lokalisasi di Kedung Banteng Ponorogo, secara prinsip sudah siap untuk melakukan penutupan, beserta anggaran penutupannya. “Tapi di di Mojokerto masih belum, tapi akan segera diupayakan bersama pemkot setempat,” kata Pakdhe Karwo. (Ant/Gulalives/RAPP002)