Dari Isu Judi Online Karya Ibu PKK hingga Pasar Hantu, 75 Film Horor Ramaikan Bioskop Rakyat FFH 2026 Pacitan

oleh -17 Dilihat
Pemutaran 75 Film Horor di Bioskop Rakyat Festival Film Horor 2026 Pacitan
Antusiasme penonton saat menyaksikan pemutaran 75 film horor dalam program "5 Layar Jejak Mbah Sayem" pada gelaran Festival Film Horor (FFH) 2026 di kawasan Alun-Alun Kabupaten Pacitan, Kamis–Jumat (15–16/10/2026). (Foto: Dok. FFH Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Ruang Film Pacitan menyulap lima ruang publik dan gedung bersejarah di kawasan Alun-Alun Kabupaten Pacitan menjadi “Bioskop Rakyat” untuk menayangkan serentak 75 film horor karya sineas nasional, pelajar, hingga ibu-ibu PKK dalam ajang Festival Film Horor (FFH) 2026 pada 15–16 Oktober 2026.

Mengusung konsep “5 Layar Jejak Mbah Sayem”, pemutaran film ini langsung menyedot perhatian publik sejak hari pertama penyelenggaraan pada Kamis (15/10/2026).

Tercatat sebanyak 448 penonton yang terdiri dari pegiat sinema, pelajar, dan masyarakat umum memadati empat titik pemutaran utama pada sesi perdana.

Rinciannya meliputi 134 penonton di Gedung Gasibu Swadaya, 122 penonton di Venue Tobong, 100 penonton di Halaman Pasar Sawo, dan 92 penonton di Gedung Karya Dharma.

Kelima titik layar tersebut dibagi berdasarkan segmen penonton dan kategori karya. Gedung Karya Dharma (Bioskop Rakyat Mbah Sayem) menayangkan kategori Film Umum Nasional dan Guest Star Movie, sementara Gedung Gasibu Swadaya (Bioskop Rakyat Laut Selatan) memutar karya Pelajar Regional SMA/SMK se-Jawa Timur.

Baca juga: Pra-Event Workshop Sukses digelar, Festival Film Horor II Siap Gebrak Pacitan

Adapun Lapangan Basket/Tobong Alun-Alun (Bioskop Rakyat Gunung Karst) mewadahi karya ekshibisi kolaborasi ibu-ibu PKK, Karang Taruna, komunitas lokal, serta siswa SD dan SMP. Dua titik lainnya, yakni Halaman Pasar Sawo (Bioskop Rakyat Goa Karst) menayangkan kategori Video Bercerita tingkat PAUD, TK, dan SD, sedangkan Lapangan Voli Alun-Alun menjadi lokasi layar terbuka untuk film lokal non-kompetisi.

Daya tarik utama pemutaran tahun ini terletak pada keberanian warga dan pelajar mengangkat isu sosial ke dalam medium horor. Di Venue Tobong dan Pasar Sawo, kolaborasi Karang Taruna dan ibu-ibu PKK Kecamatan Tegalombo menyuguhkan edukasi publik melalui film Seramnya Judi Online, disusul film Belik Bolak Balik yang menyoroti pencemaran limbah lingkungan.

Suasana pintu gerbang area pemutaran film Bioskop Rakyat pada gelaran Festival Film Horor (FFH) 2026 di kawasan Alun-Alun Kabupaten Pacitan.
Suasana pintu gerbang di salah satu titik Bioskop Rakyat yang mengusung konsep “5 Layar Jejak Mbah Sayem” pada rangkaian Festival Film Horor (FFH) 2026 di kawasan Alun-Alun Kabupaten Pacitan, Kamis–Jumat (15–16/10/2026). (Foto: Dok. Ruang Film Pacitan)

Sementara itu, siswa SD turut melestarikan legenda desa melalui karya Wedus Kendit dan Telaga yang Hilang serta Babad Kledung.

Di titik pemutaran pelajar SMA/SMK, isu kesehatan mental dan realitas remaja mendominasi layar. Film Smriti karya Praditya Ariyanto mengemas dampak perundungan (bullying) lewat teror mistis, sedangkan film Deadline garapan M. Qayyis Baihaqi dan Pulang karya Gustiamar Zianik memadukan ketegangan psikologis dengan kisah haru kerinduan anak rantau kepada mendiang ibunya.

Untuk kategori nasional di Gedung Karya Dharma, penonton disuguhi horor-komedi tentang pelanggaran “hak asasi hantu” dalam H untuk Hantu karya Adith Dudit, teror Gagampiran: Hutang Baras Dibayar Baras karya M. Azmi Arif, hingga film pendek Junio’s First Kiss karya Aby Kusdinar.

Puluhan rumah produksi dan komunitas turut hadir mengawal pemutaran karya mereka, antara lain Pabrik Imaji Akasacarafilm, Anatmant Film, Avikom, OMG Film, Karsa Sinema, Lemas Longor Production, SMKS PGRI Donorojo, hingga perwakilan PKK dan Karang Taruna dari Kecamatan Tegalombo, Bandar, Nawangan, dan Sudimoro.

Setiap sesi penayangan ditutup dengan diskusi interaktif bersama pembuat film dan kurator guna menumbuhkan literasi serta budaya kritik sinema.

“Film-film yang ditampilkan sangat keren, kreatif, serta luar biasa,” ungkap Rogo Setyo Rahayu, salah satu penonton perwakilan dari SMPN 1 Ngadirojo saat sesi diskusi dan apresiasi film di Venue Tobong.

Selain pemutaran film, pengunjung FFH 2026 juga disuguhi pengalaman ruang kreatif di luar layar melalui wahana “Pasar Hantu” dan “Galeri Jejak Mbah Sayem” pada 15–17 Oktober 2026 di Alun-Alun Pacitan.

Bekerja sama dengan PLUT KUMKM Kabupaten Pacitan, Pasar Hantu memadukan nuansa horor dengan pameran kuliner lokal, kriya tembikar, batu akik, dan cendera mata resmi festival.

Sementara itu, Galeri Jejak Mbah Sayem yang digarap bersama Museum Song Terus dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur Kementerian Kebudayaan RI menghadirkan arsip serta instalasi visual mengenai sosok prasejarah Mbah Sayem sebagai warisan identitas budaya Pacitan.

Rangkaian festival yang didukung oleh Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Kementerian Kebudayaan RI, Community Forum JAFF, dan Pemerintah Kabupaten Pacitan ini juga dimeriahkan oleh program Plesir Kidul, dialog Temu Tamu, Malam PenyamarRun, serta The ConjuRide.

Puncak acara FFH 2026 digelar secara terbuka dan gratis bagi masyarakat umum pada Sabtu (17/10/2026) di Alun-Alun Pacitan melalui Malam Penganugerahan (Awarding Night), penutupan, serta penampilan grup musik Overnight.

No More Posts Available.

No more pages to load.