Pacitanku.com, PACITAN – Kekuatan film horor tidak hanya bertumpu pada kejutan menyeramkan, melainkan ketajaman konflik yang berakar dari kehidupan sehari-hari.
Prinsip inilah yang dibedah konsultan skenario Asaf Antariksa Riyanto dalam Lokakarya Penulisan Skenario dan Riset Film Horor pada rangkaian Festival Film Horor (FFH) 2026 di Venue Tobong, Alun-Alun Kabupaten Pacitan, Jumat (16/10/2026) malam.
Di hadapan para sineas, Asaf menjelaskan bahwa pembuatan film horor harus diawali dengan penentuan fondasi cerita serta konsep pertarungan kebaikan melawan kejahatan (good versus evil) sebelum meramu unsur ketegangan.
Menurutnya, narasi yang memikat selalu berangkat dari keinginan kuat seorang tokoh yang berbenturan dengan berbagai rintangan.
“Kalau kita membuat film dengan genre tertentu, kita harus menentukan dulu inti dari film tersebut. Film itu dituangkan dalam sebuah cerita, kemudian kita terjemahkan melalui storytelling,” jelas Asaf dalam pemaparannya, Jumat (16/10/2026).
Konsultan script writing dan script doctoring ini menekankan bahwa suasana mencekam maupun misteri baru akan terasa bermakna apabila terhubung langsung dengan perjuangan tokoh utama. Tanpa tujuan dan hambatan yang terarah, elemen horor hanya akan menjadi tempelan tanpa kedalaman naratif.
“Intinya, seseorang sangat menginginkan sesuatu. Keinginan itu bisa kita terjemahkan sebagai goal atau tujuan. Sementara itu, kesulitan untuk mendapatkannya bisa menjadi kendala, hambatan, maupun rintangan yang di dalamnya mengandung konflik,” paparnya.
Baca juga: Festival Film Horor 2026 Pacitan Dipadati 1.000 Penonton dan Aksi Unik Lari Berkostum Hantu
Lebih lanjut, Asaf mengajak para penulis skenario menyadari bahwa ide cerita horor yang kuat tidak harus dicari dari peristiwa luar biasa. Persoalan hidup, pengambilan keputusan, dan upaya manusia mengatasi masalah setiap hari justru menjadi sumber inspirasi yang dekat dengan penonton apabila diperkuat melalui riset mendalam.
“Storytelling itu sebenarnya terjadi dalam keseharian kita,” ungkapnya.
Lokakarya yang dimulai pukul 19.00 WIB ini menjadi ruang penguatan kapasitas sineas di tengah semarak FFH 2026 yang berlangsung pada 15–16 Oktober 2026.
Sebelumnya, komunitas Ruang Film Pacitan menyulap lima titik publik dan gedung bersejarah di kawasan Alun-Alun Pacitan menjadi “Bioskop Rakyat” bertajuk 5 Layar Jejak Mbah Sayem.
Ajang tersebut menayangkan serentak 75 film horor lintas kalangan, mulai dari karya sineas nasional, pelajar SMA/SMK se-Jawa Timur, hingga kreasi ibu-ibu PKK.
Antusiasme publik terlihat sejak pemutaran perdana pada Kamis (15/10/2026) yang menyedot 448 penonton di empat lokasi utama, yakni Gedung Gasibu Swadaya (134 penonton), Venue Tobong (122 penonton), Halaman Pasar Sawo (100 penonton), serta Gedung Karya Dharma (92 penonton).












