Viral di Pacitan, Pujianto Bantah Klaim Sebagai Imam Mahdi dan Tegaskan Hanya Tempat Belajar Ketuhanan

oleh -149 Dilihat
Pujianto Ikhsan memberikan keterangan pers kepada awak media di kediamannya, Dusun Plalangan, Desa Gawang, Pacitan.
Pujianto Ikhsan (50) saat memberikan klarifikasi kepada awak media di kediamannya, Dusun Plalangan, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Kamis (6/8/2026). (Foto: Istimewa)

Pacitanku.com, KEBONAGUNG — Pujianto Ikhsan (50), warga Dusun Plalangan, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mendadak menjadi sorotan publik setelah berbagai klaim mengenai pandangan ketuhanannya beredar luas.

Dalam pertemuan perdana dengan awak media pada Kamis (6/8/2026), Pujianto secara tegas membantah dirinya mengaku sebagai Imam Mahdi maupun pembawa ajaran agama baru.

Untuk pertama kalinya, Pujianto membuka kediamannya kepada awak media dan masyarakat luas.

Rumah yang selama ini menjadi tempat berkumpul sejumlah pengikut dari berbagai daerah, seperti Wonogiri dan Ponorogo, tersebut ditegaskannya bukanlah sebuah padepokan atau organisasi keagamaan formal.

Ia menjelaskan bahwa lokasi tersebut murni difungsikan sebagai ruang bagi keluarga dan orang-orang yang datang secara sukarela untuk bersama-sama mendalami nilai-nilai ketuhanan.

“Di sini saya sebagai… selaku sebagai mutlak, hak mutlak, hak milik Tuhan Yang Maha Esa. Jadi bukan sebagai apa dan siapa, bukan. Hanya itu saja, itu identitasnya,” ujar Pujianto.

Pujianto kembali menegaskan bahwa aktivitas yang berlangsung di kediamannya tidak memiliki struktur organisasi keagamaan tertentu.

“Tempat ini bukan padepokan, juga bukan perkumpulan apa pun. Di sini secara pribadi dan keluarga datang itu sesekali waktu untuk sama-sama belajar bertuhan. Bertuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tambahnya.

Mengaku dapat panggilan telepon dari Amerika Serikat

Selain membahas aktivitas spiritualnya, Pujianto membenarkan bahwa dirinya pernah menerima panggilan telepon internasional dari luar negeri, tepatnya dari Amerika Serikat. Menurutnya, nomor tersebut masih tersimpan di perangkat miliknya.

Kendati demikian, Pujianto mengaku tidak dapat memastikan secara pasti identitas penelepon di balik nomor tersebut. Ia menduga panggilan itu berkaitan dengan unggahan status di media sosial miliknya yang sempat terbaca oleh pihak luar negeri.

“Kami tidak tahu persisnya apakah itu memang Donald Trump yang langsung meneleponnya atau siapa, tapi itu tertulis di situ memang dari Amerika Serikat langsung. Di saat kami sedang mungkin membuat status… bahwa intinya, ‘Oh ini kok mengindikasi bahwa ini kok sepertinya yang ditunggu-tunggu itu’, tutur Pujianto.

Meski sempat menarik perhatian, Pujianto mengaku memilih untuk mengabaikan panggilan internasional tersebut karena menilai situasinya belum tepat.

“Nah, akhirnya masuklah telepon tersebut. Nomor tersebut tiba-tiba masuk. Nah akhirnya, ya udahlah kita abaikan saja dulu karena memang belum tiba saatnya,” katanya.

Menanggapi beragam sapaan yang disematkan masyarakat kepadanya—mulai dari sebutan “Gus” hingga panggilan lainnya—Pujianto menanggapinya dengan santai. Ia menegaskan bahwa dirinya hanyalah orang biasa yang terlahir dari keluarga petani.

Sambil berseloroh, ia menambahkan, “Lah orang manggil saya Gus, yang penting saya jangan dipanggil polisi atau dipanggil tentara.”

Di sisi lain, perspektif berbeda disampaikan oleh salah seorang pengikutnya, Sulardi. Ia meyakini bahwa Pujianto memiliki kedudukan spiritual khusus yang dikenal dalam berbagai sebutan tradisional di masyarakat.

“Dalam dunia hal ini dinyatakan, dikatakan, namanya bisa Satrio Piningit, Ratu Adil, Imam Mahdi, juga Budha Jenggotan. Intinya dipilih. Tidak kayak Nabi Muhammad dapat wahyu, jadi nabi. Nah, ini kan tidak nabi-nabian, tapi Sang Kinasih,”demikian klaim Sulardi.

Sulardi juga mengungkapkan bahwa kelompok tersebut sebelumnya melakukan kegiatan secara tertutup sejak 2018 sebelum akhirnya memutuskan untuk terbuka kepada publik pada tahun 2026 ini.

Hingga saat ini, aktivitas di kediaman Pujianto di Dusun Plalangan masih terpantau berjalan seperti biasa. Di lokasi tampak sebuah banner hitam bertuliskan pemikiran pribadi serta ilham yang diyakini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

No More Posts Available.

No more pages to load.