Rudhi Prasetyo dan Perjuangannya Melestarikan Wayang Beber Pacitan di Era Modern

oleh -129 Dilihat
Rudhi Prasetyo, dalang wayang beber asal Pacitan, menunjukkan gulungan wayang beber. (Foto: Meli Fatma/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN-Seni wayang beber Pacitan sebagai salah satu warisan budaya tertua di Nusantara terus dijaga keberadaannya oleh generasi penerus.

Salah satunya adalah Rudhi Prasetyo, dalang asal Nanggungan yang berkomitmen melestarikan kesenian tradisional tersebut meski bukan berasal dari garis keturunan langsung.

Saat berbincang dengan Pacitanku.com dalam program siniar Kertas Kosong episode 57, Rudhi mengungkapkan kecintaannya terhadap wayang beber yang sarat nilai filosofi dan moral.

“Saya begitu mencintai wayang beber karena wayang beber itu luar biasa. Ada nilai estetikanya, ajaran moralnya, utamanya ajaran cinta sejati di dalamnya. Dan wayang ini adalah jati diri kita yang layak diuri-uri,” ujarnya.

Wayang beber di Pacitan sendiri memiliki sejarah panjang yang berpusat di Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo.

Di wilayah yang cukup terpencil tersebut, tersimpan wayang beber kuno berusia sekitar 400 tahun yang telah dirawat secara turun-temurun hingga 15 generasi.

Namun, keberlangsungan tradisi ini sempat menghadapi tantangan serius pada tahun 2004.

Keturunan terakhir dari garis pewaris yang disebut berasal dari era Majapahit tidak memiliki anak, sementara dalam tradisi dalang wayang beber, penerus harus berasal dari keturunan langsung.

Kondisi ini kemudian memunculkan proses yang dikenal sebagai “nunggak semi”, yakni terputusnya garis keturunan yang kemudian tumbuh kembali melalui sosok baru.

Dalam situasi tersebut, almarhum Fathoni yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata menunjuk Rudhi untuk menjadi dalang penerus.

Penunjukan itu didasari karena Rudhi diketahui memiliki minat besar terhadap budaya dan pernah belajar langsung kepada Mbah Mardi yang kala itu dirinya kebetulan adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa.

Perjalanan Rudhi sebagai dalang dimulai pada tahun 2009 saat ia pertama kali tampil di kediaman Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Pacitan.

Meski saat itu menggunakan wayang beber hasil cetakan, pengalaman tersebut menjadi momen penting sekaligus pembelajaran berharga.

Ia bahkan sempat dimarahi oleh Mbah Mardi karena tidak meminta izin kepada sesepuh terlebih dahulu, yang kemudian membuatnya menyadari adanya unsur magis dalam tradisi tersebut.

Pada tahun 2010, Rudhi kembali pentas bersama Mbah Mardi dan sejak saat itu mulai dipercaya sebagai penerus.

Tidak lama berselang, Mbah Mardi wafat atau “kapundhut”, sehingga amanah untuk melestarikan wayang beber sepenuhnya berada di tangan Rudhi.

Dalam perjalanannya, ia menghadapi berbagai kendala, terutama minimnya minat generasi muda terhadap budaya lokal.

Meski demikian, Rudhi tetap berpegang pada pesan almarhum gurunya, yakni “sing penting ateken tekun bakal tekan”.

Filosofi tersebut dikenal sebagai prinsip 3T, yaitu teken (yakin), tekun (rajin), dan tekan (sampai tujuan).

Kini, Rudhi terus berupaya menjaga eksistensi wayang beber Pacitan dengan membuka sanggar yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.

”Kita buat ruang dengan sekat-sekat, sekat budaya biarlah budaya, sekat magis, kemudian sekat anak muda,”

Ia berharap, upaya tersebut dapat melahirkan generasi penerus yang mampu menjaga dan menghidupkan kembali warisan budaya Nusantara, khususnya seni wayang beber yang menjadi identitas budaya Pacitan.