Pacitanku.com, PACITAN-Pagi itu, suasana di Rumah Makan Janenake, kawasan Pantai Pancer Door, Kabupaten Pacitan, tampak berbeda dari biasanya.
Bukan hanya aroma hidangan yang terasa, tetapi juga ketegangan sunyi dari puluhan papan catur yang berjajar rapi.
Satu per satu bidak digerakkan dengan penuh perhitungan dalam gelaran Turnamen Catur Bupati Cup, Selasa (17/2/2026).
Di antara hampir 190 peserta yang hadir, Nadia Silva Zahra Asmara (23) duduk fokus menatap papan catur.
Mahasiswa asal Solo itu mengaku telah mengenal catur sejak sekolah dasar.
Bukan dari klub besar atau sekolah khusus, melainkan belajar sendiri di rumah melalui komputer.
“Catur itu mengasah pikiran. Olahraga tidak selalu soal fisik, tetapi juga strategi dan cara berpikir,” ujarnya pelan.
Baginya, turnamen ini bukan sekadar kompetisi.
Ia datang membawa dua tujuan: bersilaturahmi dan menguji kemampuan.
Meski belum pernah menjuarai kompetisi besar, ia memberanikan diri mendaftar.
Tantangan terberatnya adalah menghadapi pemain-pemain yang dibina sekolah Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi).
Namun rasa minder itu justru menjadi pemantik semangat.
Kenangan kecil tentang kemenangan lomba tingkat lingkungan tempat tinggal dengan hadiah sederhana masih ia simpan sebagai motivasi.
Dari pengalaman itulah, ia percaya bahwa setiap langkah kecil di atas papan catur adalah bagian dari perjalanan panjang.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah, termasuk Nadia, menunjukkan bahwa persaingan di turnamen ini tidaklah ringan.
Namun justru dari atmosfer kompetitif inilah para atlet catur Pacitan ditempa dan diasah kemampuannya.
Turnamen ini sendiri menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan.
Bagi panitia, kegiatan ini bukan hanya ajang tanding, tetapi ruang menumbuhkan potensi.

Wayan Diana, salah satu panitia, menyebut minat generasi muda terhadap catur terus meningkat, meski pembinaan masih menghadapi tantangan keterbatasan tenaga pelatih.
Pacitan sebenarnya memiliki rekam jejak membanggakan.
Atlet daerah pernah menembus level nasional bahkan internasional dengan gelar FIDE Master.
Dua atlet muda juga sempat mendapat penghargaan di DPR RI atas prestasi mereka.
Fakta itu menjadi bukti bahwa potensi catur di Pacitan bukan sekadar wacana.
Kini, pembinaan mulai diperluas hingga tingkat kecamatan agar menjangkau anak-anak di wilayah pinggiran.
Harapannya sederhana namun besar: semakin banyak generasi muda berani duduk di depan papan catur, berpikir, belajar sabar, dan berani melangkah.
Di tengah riuh rendah ombak Pancer Door, langkah pion-pion kecil itu seolah menjadi simbol perjalanan panjang.
Dari meja sederhana di Pacitan, mimpi-mimpi besar perlahan disusun satu langkah, satu strategi, menuju masa depan yang lebih gemilang.








