Warga Pakisbaru Rawat Ingatan Gerilya Panglima Besar lewat Monumen Soedirman

oleh -162 Dilihat
Patung Jenderal Soedirman memegang tongkat komando dan berdiri menghadap cakrawala di Monumen Jenderal Soedirman Pacitan.
Sosok Jenderal Soedirman berdiri tegak memegang tongkat komando menghadap cakrawala di Monumen Jenderal Soedirman (Mojensu), Desa Pakisbaru, Pacitan. Patung yang berdiri sejak 1993 ini menjadi pengingat abadi akan jejak perjuangan gerilya sang Panglima Besar. (Foto: Ceisya Salsabilla Naqiya Calisa/Pacitanku)

Pacitanku.com, NAWANGAN – Monumen Jenderal Soedirman (Mojensu) di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol kebanggaan dan identitas kolektif warga setempat yang terus dirawat.

Monumen yang diresmikan pada 2008 silam ini menjadi saksi bisu jejak perjuangan gerilya sang Panglima Besar yang rela bertaruh nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Kisah Rumah Kayu Pengawal Jenderal di Pakisbaru Pacitan

Keberadaan monumen ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Pakisbaru, desa yang dahulu pernah menjadi tempat persinggahan sang jenderal.

Penjaga loket monumen, Sidiq, mengungkapkan bahwa monumen dan markas gerilya di kawasan tersebut adalah bentuk nyata penghormatan dari putra daerah untuk mengenang jasa Jenderal Soedirman.

“Desa Pakisbaru mungkin tidak bisa membuat bangunan lain yang semegah ini. Dengan adanya monumen ini sudah pasti jadi kebanggaan bagi kami,”kata Sidiq, baru-baru ini.

Pembangunan monumen kebanggaan warga Nawangan ini melalui perjalanan yang panjang. Peletakan batu pertama dilakukan pada akhir tahun 1981, disusul pendirian patung pada tahun 1993.

Kawasan bersejarah ini akhirnya diresmikan secara utuh oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 15 Desember 2008.

Relief batu yang diukir pada dinding monumen menggambarkan adegan perjuangan Jenderal Soedirman.
Salah satu dari 38 relief yang mengelilingi bangunan utama monumen. Rangkaian ukiran batu ini menceritakan secara kronologis perjalanan hidup Jenderal Soedirman, mulai dari masa kecil hingga memimpin perang gerilya saat Agresi Militer Belanda.

Nilai perjuangan tidak hanya terekam dalam ingatan warga, tetapi juga tertanam kuat pada arsitektur monumen.

Saat berkunjung, masyarakat akan disambut delapan gerbang berisi kutipan karya Jenderal Soedirman, serta 38 relief yang menceritakan secara runut perjalanan hidupnya, mulai dari masa kecil hingga memimpin perang gerilya.

Selain itu, rancangan monumen ini juga menyematkan simbol kemerdekaan.

Untuk mencapai patung utama, pengunjung harus menapaki susunan anak tangga yang merepresentasikan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, yakni 45 anak tangga di bagian bawah, 8 di tengah, dan 17 di area puncak.

Kini, di tengah perubahan zaman, masyarakat Pakisbaru berharap monumen ini terus mendapatkan perawatan.

Warga menantikan terwujudnya rencana renovasi dan pengaktifan kembali fasilitas diorama agar generasi muda tidak pernah melupakan sejarah besar yang diwariskan di pelosok Pacitan.

Video Jejak Bersejarah Monumen Jenderal Soedirman

No More Posts Available.

No more pages to load.