Pacitanku.com, PACITAN-Peringatan Hari Jadi ke-281 Pacitan menjadi momen refleksi bagi banyak warga.
Di Pasar Minulyo, refleksi itu hadir lewat cerita para pedagang dan pekerja harian yang puluhan tahun menggantungkan hidup dari denyut aktivitas pasar.
Dari mereka, tersimpan pandangan tentang perubahan, tantangan ekonomi, keluhan yang kerap dirasakan, hingga harapan sederhana ke depan.
1. Pacitan yang Dulu vs Sekarang: Pasar Pernah Sangat Hidup
Mak Inem, pedagang kembang sekaran yang telah berjualan selama sekitar 35 tahun, mengenang masa ketika Pasar Minulyo menjadi pusat aktivitas ekonomi warga.
Menurutnya, suasana pasar di masa lalu terasa jauh lebih padat dan hidup. Pembeli datang silih berganti, dan transaksi berlangsung sejak pagi hingga siang hari.
Saat itu, Mak Inem tidak hanya menjual kembang sekaran, tetapi juga kercikan bahan pangan yang cukup diminati pembeli.
“Namun seiring berjalannya waktu, suasana juga perlahan berubah. Jumlah pembeli jadi berkurang dan pasar terasa lebih lengang,” tuturnya (Jumat/20/2/2026).
Perubahan itu dirasakan langsung oleh para pedagang kecil yang mengandalkan ramainya pasar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
2. Tantangan Mencari Nafkah Hari Ini: Pendapatan Tak Selalu Menutup Ongkos
Kondisi ekonomi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang pasar.
Mak Inem mengaku, dalam beberapa waktu terakhir, pendapatan yang diperoleh sering kali tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.
Ia bahkan bercerita bahwa anak-anaknya telah beberapa kali melarangnya berjualan di pasar karena ongkos transportasi pulang-pergi kerap lebih besar daripada hasil penjualan sehari.
Meski demikian, Mak Inem tetap memilih datang ke pasar.
Baginya, berjualan bukan semata soal penghasilan, tetapi juga tentang menjaga rutinitas dan semangat hidup.
Aktivitas di pasar membuatnya merasa lebih bugar dan tetap berdaya di usia senja.
3. Keluhan yang Paling Sering Dirasakan: Dagangan Tak Lagi Habis Terjual
Cerita serupa datang dari Bu Sri, pedagang lontong dan cenil.
Sejak menjadi orang tua tunggal pada 2015, ia menggantungkan penghidupan keluarga dari hasil berjualan di Pasar Minulyo.
Bu Sri mengungkapkan bahwa penurunan penjualan sangat terasa.
Jika sebelumnya ia mampu menghabiskan hingga 15 kilogram lontong dalam sehari, kini menyiapkan 3 kilogram pun terkadang belum habis terjual.
“Kadang 3 kilogram saja tidak terjual habis, nak,” ungkap Bu Sri.
Kondisi tersebut menjadi keluhan yang kerap dirasakan pedagang pasar: bukan hanya sepinya pembeli, tetapi juga ketidakpastian hasil penjualan setiap hari.
Situasi ini membuat para pedagang harus terus berhemat dan menyesuaikan kebutuhan hidup dengan pendapatan yang tidak menentu.
4. Harapan Sederhana untuk Masa Depan: Pasar Tetap Hidup dan Ekonomi Bergerak
Di tengah berbagai keterbatasan, para pedagang tetap menyimpan harapan di momen Hari Jadi ke-281 Pacitan.
Bu Sri berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, misalnya melalui kegiatan atau acara yang dapat menarik lebih banyak pengunjung ke Pasar Minulyo sehingga aktivitas jual beli kembali meningkat.
Sementara itu, Mak Inem berharap Pacitan ke depan semakin maju dan damai, serta roda perekonomian masyarakat kecil dapat kembali bergerak.
“Semoga Pacitan lebih baik lagi dan pasar bisa ramai seperti dulu,” harapnya.
Di balik cerita tentang sepinya pasar dan beratnya mencari nafkah, para pedagang Pasar Minulyo tetap menjalani hari dengan canda dan senyum.
Dari pasar tradisional inilah, suara warga menjadi potret sederhana tentang Pacitan hari ini: jujur, bertahan, dan penuh harapan di usia ke-281 tahun.









