Pacitanku.com, PACITAN – Identitas Kabupaten Pacitan sebagai “Kota 1001 Gua” terbukti bukan sekadar kiasan kosong belaka, melainkan fakta ilmiah yang didukung oleh temuan ribuan titik gua yang tersebar di wilayah kars Gunung Sewu.
Data sementara yang dihimpun oleh para penjelajah gua mencatat setidaknya terdapat 1.623 gua yang tersebar di tujuh kecamatan, di mana penamaannya menyimpan ragam cerita unik mulai dari peristiwa sejarah, tragedi masa lampau, hingga nama warga pemilik ladang yang menjadi lokasi mulut gua tersebut.
Anggota Pacitan Speleology Society (PSS), Aziz Pratoko, dalam siniar Kertas Kosong yang tayang di saluran YouTube Pacitanku TV, Kamis (22/1/2026), mengungkapkan bahwa kekayaan toponimi atau asal-usul penamaan gua di Pacitan sangat kental dengan kearifan lokal.
Salah satu kisah yang paling ikonik adalah sejarah penamaan Gua Luweng Jaran yang diambil dari sebuah tragedi kecelakaan pada masa lampau.
Konon, seorang pejabat desa beserta kuda dan dokarnya terperosok ke dalam lubang tersebut saat terjadi banjir, bahkan jejak kaki kuda tersebut diklaim masih terlihat hingga kini.

Selain itu, terdapat Gua PKI di Kecamatan Tulakan yang dinamai demikian karena dipercaya masyarakat setempat sebagai lokasi eksekusi korban peristiwa G30S/PKI, serta gua-gua yang dinamai berdasarkan vegetasi sekitar seperti Gua Dawung dan Gua Papringan.
Sisi paling humanis dan menggelitik dari proses inventarisasi gua ini terjadi ketika tim penjelajah menemukan gua tanpa nama di lahan milik warga.
Aziz menceritakan bahwa untuk memudahkan pendataan, timnya sering kali meminta izin menggunakan nama pemilik tanah sebagai identitas gua tersebut dalam basis data.
Salah satu contohnya adalah “Luweng Parni” yang dinamai karena letaknya di ladang milik Mbah Parni, serta “Luweng Muri” yang berada di belakang rumah warga bernama Muri.
Aziz menirukan dialog jenaka saat meminta izin kepada pemilik lahan, di mana sang pemilik dengan santai mempersilakan namanya diabadikan menjadi nama gua.
“Namanya Luweng Parni karena letaknya di ladang milik Mbah Parni. Kami izin menggunakan namanya untuk database, ‘Mbah, goa ini saya namakan Mbah Parni, boleh?’ dan beliau menjawab ‘Monggo, karepmu‘,” cerita Aziz
Ragam penamaan ini juga mencakup karakteristik fisik, seperti Gua Luweng Ombo yang berarti lubang lebar, serta Gua Seropan yang menandakan tempat aliran sungai menghilang masuk ke dalam perut bumi.

Potensi speleologi Pacitan ini melengkapi daya tarik wisata selain pantai, dengan ikon utama seperti Gua Gong di Desa Bomo, Punung, yang terkenal dengan ornamen batu berbunyi seperti gamelan, serta Gua Tabuhan di Desa Wareng yang menawarkan keajaiban bunyi bebatuan.
Berdasarkan penelusuran tim redaksi dari ujung Kecamatan Donorojo di bagian barat hingga Tegalombo di timur, tercatat ratusan nama gua yang telah teridentifikasi dan menjadi kekayaan alam tak ternilai bagi Pacitan.
Video Menyingkap Misteri Perut Bumi Pacitan Bersama Para Penjelajah Goa | Podcast Kertas Kosong Eps. 51











