Pacitanku.com, PACITAN – Di balik keindahan ornamen dan tantangan fisik penelusuran gua di Pacitan, tersimpan sejumlah kisah tak terjelaskan nalar mulai dari proses evakuasi korban kecelakaan yang diwarnai fenomena ganjil hingga penemuan benda pusaka yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu.
Pengalaman spiritual ini menjadi sisi lain yang kerap dialami oleh anggota Pacitan Speleology Society (PSS) saat bergelut dengan kegelapan abadi di perut bumi.
Aziz Pratoko, penelusur gua dari PSS, membagikan pengalamannya yang menegangkan saat menjadi narasumber di tayangan siniar Kertas Kosong Pacitanku TV yang tayang belum lama ini.
Salah satu kejadian yang paling membekas adalah saat proses evakuasi korban kecelakaan di sebuah luweng di Desa Jlubang, Kecamatan Pringkuku, Pacitan pada tahun 2024.
Korban terperosok sedalam 72 meter, dan selama proses pengangkatan, tim evakuasi merasakan berbagai kendala dan fenomena yang sulit dijelaskan secara logika.
Meski demikian, tim tetap bekerja profesional dengan memadukan keahlian teknis dan penghormatan terhadap “tuan rumah” atau kearifan lokal setempat.
Tak hanya soal evakuasi, Aziz juga menceritakan pengalaman mistis saat menelusuri Luweng Tati di kawasan Donorojo bersama mahasiswa pecinta alam dari Universitas Gadjah Mada (UGM) DI Yogyakarta.
Ia dan seorang rekannya mengaku melihat dan bahkan sempat memotret benda pusaka berupa tombak dan keris yang tergeletak di dalam gua.
Anehnya, peserta lain yang melewati jalur sempit yang sama justru tidak melihat benda apapun di lokasi tersebut.
“Kami sering menemukan benda pusaka seperti tombak dan keris di dalam gua. Anehnya, tidak semua orang bisa melihatnya. Pernah saat masuk bersama teman-teman Mapala Silvagama UGM di Luweng Tati, Donorejo, hanya saya dan teman saya (Mbak Rasita) yang melihat dan memotret benda pusaka tersebut. Peserta lain yang melewati jalur sempit yang sama justru tidak melihat apa-apa,”paparnya.
Fenomena benda pusaka yang seolah memilih siapa yang bisa melihatnya ini menjadi salah satu misteri yang sering ditemui para penelusur gua di tanah Pacitan.
Mitos mengenai keberadaan ular raksasa atau monster penjaga gua juga sering didengar Aziz dari cerita warga lokal saat sedang melakukan survei lokasi.

Meskipun seringkali cerita tersebut hanyalah kiasan untuk menjaga keamanan wilayah, Aziz mengakui bahwa beberapa cerita memiliki dasar sejarah, seperti jejak ekspedisi Anglo-Australian Speleological Expedition pada tahun 1984 hingga 2002.
“Salah satu temuannya adalah Gua Luweng Jaran yang memiliki sistem sangat panjang, terpetakan sekitar 11 km (terpanjang di Jawa), bahkan rumornya bisa mencapai 18 km lebih. Kami berencana melakukan pemetaan ulang pada tahun 2026 ini,”kata dia.
Bagi Aziz dan rekan-rekannya, berada di zona gelap abadi justru mengajarkan rasa syukur mendalam akan nikmat cahaya matahari, sembari tetap menghormati segala entitas, baik yang terlihat maupun tidak, yang mendiami lorong-lorong sunyi di bawah tanah.
“Awalnya takut, tapi lama-kelamaan jadi asyik. Di zona gelap abadi, kita justru merasa lebih bersyukur. Tuhan memberi cahaya matahari gratis setiap hari, tapi kita sering lupa. Di dalam gua, tanpa senter, mata terbuka pun tetap gelap gulita,”pungkasnya.
Video Menyingkap Misteri Perut Bumi Pacitan Bersama Para Penjelajah Goa | Podcast Kertas Kosong Eps. 51












