Exalos Pacitan Evakuasi King Kobra 2,5 Meter Bersama Puluhan Telur di Tulakan

oleh -294 Dilihat
TELUR ULAR. Ular King Kobra (Ophiophagus bungarus) yang berhasil diamankan dari pekarangan warga di Tulakan. Sepanjang tahun 2025, Exalos Pacitan mencatat puluhan kasus ular masuk permukiman akibat terdesaknya habitat alami satwa. (Foto: Dok. Exalos Indonesia)

Pacitanku.com, TULAKAN — Kecemasan warga Dusun Turusan, Desa Nglaran, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, akhirnya mereda setelah Tim Animal Rescue Pacitan Exalos Indonesia berhasil mengevakuasi seekor ular King Kobra berukuran besar dari pekarangan rumah warga pada Selasa (30/12/2025) pagi.

Reptil mematikan sepanjang 2,5 meter tersebut diamankan bersama sarang yang berisi 27 butir telur yang siap menetas, sekaligus mencegah potensi konflik satwa liar yang lebih luas di kawasan permukiman tersebut.

Proses evakuasi yang dipimpin langsung oleh eksekutor lapangan, Nugroho, berlangsung cukup dramatis di tengah kondisi medan yang kurang bersahabat.

Nugroho mengungkapkan bahwa keberadaan ular dengan nama latin Ophiophagus bungarus ini sejatinya telah diketahui warga di area kebun produksi sejak tiga pekan lalu, namun ketakutan dan keraguan membuat mereka menunda untuk melapor hingga situasi dirasa semakin mengancam.

Setelah menerima titik lokasi dari salah satu warga yang memberanikan diri melapor, tim penyelamat segera bergerak cepat menuju lokasi kejadian.

Sesampainya di lokasi, petugas dihadapkan pada tantangan area evakuasi yang berlumpur dan licin. Meski demikian, berbekal keahlian dan peralatan standar keamanan, tim Exalos berhasil mengendalikan situasi hanya dalam waktu 15 menit.

Nugroho menjelaskan teknik penanganan dilakukan dengan prioritas mengamankan induk ular terlebih dahulu ke dalam kotak khusus (box) safety sebelum memindahkan puluhan telur tersebut agar tidak terjadi hal yang membahayakan.

“Evakuasi berjalan lancar meski tempat evakuasi sangat menantang dengan medan yang berlumpur. Dalam prosesnya, dievakuasi induknya dulu lalu dimasukkan ke box khusus ular, baru telur bisa dipindahkan,”kata Nugroho usai operasi penyelamatan.

Penemuan ini menambah panjang daftar kasus masuknya ular berbisa ke permukiman warga di wilayah Pacitan sepanjang tahun ini. Berdasarkan data statistik Tim Exalos, hingga penghujung Desember 2025 tercatat sebanyak 21 ekor ular dan 128 butir telur telah berhasil dievakuasi.

Nugroho menganalisis tingginya intensitas temuan ini berkaitan erat dengan faktor perubahan cuaca ekstrem serta alih fungsi lahan hutan menjadi hunian yang kian masif, sehingga memaksa habitat satwa liar bergeser dan bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia.

Menyikapi fenomena ini, Tim Exalos Indonesia berkomitmen untuk terus bersiaga melayani laporan masyarakat selama 24 jam penuh.

Nugroho juga mengimbau agar warga tidak nekat menangani ular berbisa secara mandiri tanpa keahlian khusus dan menyarankan untuk segera menghubungi pihak profesional demi keselamatan bersama.

Pihaknya juga terus menggencarkan edukasi penanganan satwa melalui media sosial sebagai langkah mitigasi risiko bagi masyarakat awam.