Menanti Negara Hadir, Mantan Kades di Pacitan Bangun Jembatan Bambu Demi Akses Warga ke Sawah

oleh -7314 Dilihat
PENGABDIAN TANPA BATAS. Imam Rosyid (65), mantan Kepala Desa Widoro periode 1989-1999, menunjukkan jembatan bambu yang ia bangun bersama istri dan warga. Inisiatif ini dilakukan untuk membantu petani dan anak sekolah yang kesulitan menyeberangi sungai. (Foto: Cellin Marcella/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Dedikasi tanpa batas ditunjukkan oleh Imam Rosyid (65), mantan Kepala Desa Widoro periode 1989-1999 bersama sang istri, Romelah (61), yang secara swadaya membangun jembatan bambu penghubung Desa Widoro dan Desa Semanten, Kecamatan Pacitan.

Infrastruktur sederhana yang resmi digunakan sejak 2 Oktober 2025 ini menjadi nadi baru bagi mobilitas warga sekaligus simbol harapan akan hadirnya akses permanen dari pemerintah di tengah keterbatasan anggaran desa.

Bersama sang istri, Romelah, pria berusia 65 tahun itu berinisiatif menghubungkan permukiman warga dengan area persawahan yang selama ini terpisahkan oleh aliran sungai dan menjadi kendala utama mobilitas masyarakat sekitar.

Imam Rosyid yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Widoro periode 1989-1999 merasa terpanggil melihat kesulitan warga yang bertahun-tahun harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai secara langsung atau menempuh jalur memutar yang cukup jauh demi mencapai lahan pertanian mereka.

Kondisi tersebut kian menyulitkan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan petani yang membawa hasil kebun, apalagi saat musim penghujan tiba di mana debit air sungai meningkat drastis.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Imam Rosyid bersama istri dan dibantu warga sekitar mulai membangun jembatan darurat pada 27 September 2025 dengan memanfaatkan material seadanya seperti bambu, kayu, dan tali penyangga.

Jembatan sederhana yang resmi digunakan sejak 2 Oktober 2025 itu kini menjadi nadi utama aktivitas harian warga, meski di salah satu sisinya terpasang papan kayu bertuliskan “Menunggu Bantuan Pemerintah” sebagai simbol harapan dan jeritan hati masyarakat akan hadirnya infrastruktur permanen yang lebih layak.

MENANTI PERHATIAN. Sebuah papan bertuliskan “Menunggu Bantuan Pemerintah” terpasang di jembatan bambu Dusun Ngetol, Desa Widoro, Pacitan, Sabtu (27/12/2025). Jembatan ini dibangun secara swadaya oleh mantan kepala desa setempat karena belum adanya akses permanen. (Foto: Cellin Marcella)

Mantan kades yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial ini menegaskan bahwa pembangunan jembatan murni dilakukan atas dasar kemanusiaan tanpa bantuan dana dari pemerintah maupun pihak luar.

Imam Rosyid menjelaskan bahwa tulisan pada papan kayu tersebut sengaja dibuat untuk menarik perhatian pemangku kebijakan agar melihat realitas kebutuhan infrastruktur di wilayah tersebut yang masih tertinggal.

“Adanya papan tersebut kami buat agar mendapat perhatian dari pemerintah sekitar. Kami membangun seadanya, yang penting bisa dilewati warga. Harapannya ke depan ada bantuan dari pemerintah agar jembatan ini bisa dibangun lebih permanen dan lebih baik lagi,”kata mam Rosyid saat ditemui di lokasi, Sabtu (27/12/2025).

Pasangan suami istri ini menyadari bahwa konstruksi bambu yang mereka bangun memiliki keterbatasan usia pakai dan rentan rusak jika diterjang cuaca ekstrem.

Oleh karena itu, besar harapan mereka agar pemerintah desa maupun pemerintah daerah segera turun tangan merealisasikan pembangunan jembatan permanen yang kokoh demi keselamatan jangka panjang.

Aksi nyata Imam Rosyid dan Romelah ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat, sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa pemenuhan infrastruktur dasar di pedesaan masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk diselesaikan.

“Ke depannya kami berharap adanya perhatian dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah untuk membangun jembatan permanen yang lebih aman dan layak digunakan dalam jangka panjang,”pungkasnya.

Tanggapan Pemerintah Desa

Menanggapi inisiatif warganya, Kepala Desa Widoro, Yusuf, menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur lintas desa memerlukan perencanaan matang dan prosedur administratif yang ketat karena melibatkan kesepakatan dua wilayah.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Semanten, M. Sarifudin, menjelaskan bahwa pihaknya mengapresiasi langkah swadaya tersebut namun terkendala oleh status lahan akses menuju jembatan yang masih berupa jalan setapak milik pribadi warga, bukan jalan umum utama, sehingga membutuhkan musyawarah lebih lanjut terkait tata ruang.

Meskipun Pemerintah Desa Semanten mengakui adanya keterbatasan kemampuan anggaran dan prioritas pembangunan, Sarifudin memastikan bahwa aspirasi ini akan terus diusulkan melalui mekanisme Daftar Usulan Rencana Kerja Pemerintah (DU-RKP) yang belum terakomodir dana desa saat ini.

Terlepas dari kendala birokrasi dan anggaran, jembatan bambu hasil keringat Imam Rosyid dan warga setempat kini berdiri sebagai bukti nyata bahwa semangat gotong royong masih hidup subur di tengah masyarakat pedesaan Pacitan demi memenuhi kebutuhan bersama.


Catatan Redaksi: Artikel ini telah mengalami pembaruan dan penyesuaian isi pada Kamis (1/1/2026) pukul 00.01 WIB. Perubahan dilakukan setelah redaksi melakukan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait. Langkah ini diambil untuk memastikan informasi tersaji secara utuh, berimbang, serta tidak menyudutkan pihak manapun. Redaksi melakukan penyuntingan ini demi menjaga prinsip keberimbangan berita (cover both sides) dan menyajikan fakta yang komprehensif kepada pembaca.


No More Posts Available.

No more pages to load.