Pacitanku.com, PACITAN – Ramai pemberitaan terkait dugaan pungutan liar (pungli) kepada pedagang Car Free Day (CFD) di Pacitan akhirnya mendapat tanggapan langsung dari Paguyuban Srawung Rejeki.
Melalui perwakilannya, Ririn Nurhariyanti, paguyuban yang menaungi sekitar 90 pedagang tersebut menegaskan bahwa video viral yang menampilkan dua orang menerima uang dari pedagang bukanlah praktik pungli, terlebih keduanya memang anggota paguyuban yang dapat tugas mengumpulkan iuran tersebut.
“Bukan mas, itu memang urunan rutin yang nominalnya pun sudah disepakati di dalam grup paguyuban, mereka yang iuran pun hanya yang jadi anggota” kata Ririn saat dikonfirmasi.
Menurutnya, iuran sebesar Rp5.000 itu bersifat sukarela dan hanya diberlakukan bagi anggota yang tergabung dalam Paguyuban Srawung Rejeki, itupun juga bagi mereka yang jualan.
Rinciannya, Rp2.000 digunakan untuk biaya kebersihan yang telah bekerja sama dengan KSM TPS3R Pace Sewu melalui iuran bulanan Rp200.000.
Perjanjian kerja sama ini bahkan dituangkan dalam surat resmi.
Sementara Rp3.000 sisanya dialokasikan untuk kas paguyuban, termasuk kebutuhan alat tulis kantor, trashbag, nomor urut lapak, dan keperluan insidental lainnya.
“Semua sudah kami sampaikan kepada teman-teman anggota. Ada laporan termasuk keuangan atau arus kasnya, biasanya pada saat pertemuan rutin bulanan” imbuhnya.
Ririn juga membantah isu adanya setoran ke dinas maupun pemberian uang lelah kepada pengurus.
Ia menjelaskan, tangkapan layar yang beredar di media sosial tidak utuh sehingga menimbulkan tafsir keliru di masyarakat.
“Dulu saat awal pembentukan paguyuban memang semua anggota memberi masukan, termasuk soal retribusi per meter dan uang lelah. Namun itu terjadi hanya pada tahap diskusi. Setelah dirembug bersama dan berkomunikasi dengan sejumlah pihak, kedua poin tersebut dihapus bahkan ditolak langsung oleh anggota dan pengurus,” jelasnya.
Paguyuban Srawung Rejeki sendiri berdiri sejak 26 Juni 2025 dengan anggota awal sekitar 30 pedagang di area tribun.
Pembentukan paguyuban dilakukan justru untuk meredam konflik perebutan lapak antar pedagang.
Saat ini, paguyuban sudah berkembang dengan anggota sekitar 90 pedagang yang terbagi dalam empat keompok dengan masing-masing koordinatornya.
Kelompok satu meliputi area dari depan masjid hingga tribun, kelompok dua di depan tribun, kelompok tiga di sisi selatan tribun, dan kelompok empat di sepanjang sisi selatan hingga sebelum Tugu Pancasila.
Dalam hal tata tertib, Ririn menuturkan paguyuban telah membuat nomor urut lapak agar lebih tertib dan memudahkan koordinasi antar anggota.
“Iuran hanya untuk anggota. Sifatnya tidak memaksa dan hanya ajakan. Bagi yang mau silakan bergabung, bagi yang tidak ikut pun tempat tetap tidak bergeser,” ujarnya.
Namun demikian, ia menegaskan keberadaan paguyuban tidak bersifat memaksa.
Artinya jika ada pedagang baru, kami akan mengajak bergabung.
Jika berkenan baru akan masuk grup.
“Jadi dulu memang semua pedagang kami kirim link grub. Tidak wajib dan mereka pun bergabung dengan sukarela” katanya
Terkait kabar adanya gesekan antar pedagang di lapangan, Ririn menyebut hal itu murni akibat miskomunikasi.
Salah satu contohnya seperti saat ada penyesuaian lapak karena area depan Tugu Pancasila harus steril dari pedagang.
“Koordinasi di lapangan terus berjalan. Misal waktu itu Saat ada pemberitahuan titik steril, mau tidak mau lapak yang ada harus disesuaikan ulang. Saat itu mungkin ada penerimaan informasi yang tidak tepat antar pedagang jadi seolah-olah digeser paksa. Tapi kita tetap berusaha komunikasi ke semua kelompok” tambahnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, lanjut Ririn, paguyuban juga menyediakan trashbag yang kemudian diisi pedagang untuk diangkut oleh KSM TPS 3R Pace Sewu, sebelum petugas dari dinas LH datang.
Selain itu, setiap pedagang juga diwajibkan absen malam Minggu sebelum berjualan agar memudahkan pengurus mengetahui siapa saja yang beraktivitas, sekaligus menyesuaikan jika ada pedagang yang sedang libur.
“Misal kemudian ada pelapak baru, tetap boleh jualan tapi ada pemberitahuan jika lapak tersebut sebenarnya ada yang pakai, hanya saja sedang tidak jualan” kata Ririn
Ririn menegaskan, sejak awal pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), melalui pejabat terkait.
“Kami diperbolehkan berjualan dengan syarat menjaga kebersihan dan ketertiban. Untuk aturan pedagang, kami mengikuti dari dinas atau menyesuaikan, jadi kadang butuh penyesuaian cepat” pungkasnya.
Ririn juga mengatakan pihaknya membuka komunikasi seluas-luasnya dengan semua pihak.
Karena awal dibentuknya Paguyuban Srawung Rejeki juga diniatkan untuk membuat proses dan aktifitas berdagang di CFD tetap berjalan kondusif dan komunikatif
“Kalau kami sendiri inginnya semua pedagang bisa berjualan dengan nyaman. Baik yang tergabung di paguyuban maupun yang tidak. Semoga dengan adanya klarifikasi ini, ke depan semua kembali guyub” pungkasnya.









