Pacitanku.com, TULAKAN – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tulakan Dapur Ghania bersama Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kecamatan Tulakan, Pacitan, memperketat pengawasan keamanan distribusi makanan bagi pelajar.
Langkah pengawasan berlapis ini mencakup pelarangan penggunaan MSG (micin) dalam menu, hingga imbauan tegas agar masyarakat menggunakan kanal pengaduan resmi dan tidak asal memviralkan keluhan di media sosial demi kelancaran program prioritas pemerintah tersebut.
Kesepakatan pengawasan ketat ini lahir dalam rapat koordinasi yang melibatkan unsur Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimcam) dan 57 Person In Charge (PIC) lapangan pada Jumat (18/9/2026) di Tulakan.
Camat Tulakan sekaligus Ketua Satgas MBG setempat, Harian Witri, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa higienitas yang dijaga di dapur produksi akan sia-sia jika tidak ada pemeriksaan ulang saat makanan tiba di sekolah.
“Pengecekan makanan, baik rasa maupun warna, harus dilakukan agar makanan sampai dengan aman kepada penerima manfaat. Kami di jajaran Satgas MBG akan aktif membantu agar program ini berhasil secara maksimal,” tegas Harian. Ia menekankan, PIC harus memastikan makanan diperiksa sebelum dikonsumsi oleh anak-anak.
Dapur dibangun untuk memberikan manfaat

Mitra SPPG Dapur Ghania, Danang Suprianto, menyatakan komitmennya dalam menyediakan fasilitas pendukung. Menurutnya, dapur yang selesai dibangun pada akhir 2025 ini ditujukan sepenuhnya untuk memfasilitasi kebutuhan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Yang terpenting adalah memberikan dukungan terhadap program pemerintah agar anak-anak generasi mendatang bisa tumbuh sehat dan cerdas, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang maju,” ungkap Danang.
Kepala SPPG Dapur Ghania, Hasbi Maulana, menyebut keberhasilan program tidak bisa dipikul dapur sendiri tanpa mata rantai pengawasan lintas sektor yang kuat. Mitigasi risiko harus berjalan mulai dari pengolahan hingga penyajian.
“PIC merupakan ujung tombak di lapangan. Program ini bertujuan menurunkan stunting, meningkatkan pendidikan, menggerakkan ekonomi lokal, dan mendukung ketahanan pangan. Kami ingin menyajikan makanan yang bergizi sekaligus disukai oleh penerima manfaat,” jelas Hasbi.
Menu tak bisa dibuat sembarangan
Standar ketat juga diterapkan pada penyusunan menu. Hasbi menjelaskan, pihaknya pantang menggunakan bahan tertentu seperti olahan mi, telur orak-arik, penggunaan micin, hingga produk olahan ikan tertentu.
Pengadaan buah pun diawasi ketat dan terus memberdayakan UMKM lokal. “Kalau ada yang terlalu matang ataupun belum matang, kami mohon maaf dan tentu akan terus menjadi bahan evaluasi,” tambah Hasbi terkait tantangan penyediaan pangan dalam skala besar.
Kualitas keamanan makanan turut diawasi langsung oleh Puskesmas Tulakan. Melalui tenaga sanitarian, pembinaan berkala dilakukan untuk memastikan sanitasi Dapur Ghania selalu memenuhi standar. Pengecekan serta uji cicip (food tasting) menjadi tahap wajib sebelum makanan dikirim.
Sementara, Ahli Gizi Dapur Ghania, Nabila, mengungkapkan bahwa pihaknya menerapkan sterilisasi ketat guna mencegah kontaminasi silang.
“Dari proses pengolahan, penggunaan pisau, talenan, dan saringan sudah dibedakan. Termasuk proses penyajian dan distribusi, semuanya diarahkan untuk menjaga higienitas dan kualitas gizi,” papar Nabila.
Demi menjaga keamanan pangan pasca-distribusi, makanan MBG tidak diperkenankan untuk dibawa pulang. Perwakilan Yayasan Srikandi Pacitan, Nuri, menegaskan bahwa PIC di sekolah bertugas sebagai penyaring akhir.
“Dinamika di lapangan akan terus dikomunikasikan agar permasalahan dapat diminimalkan. PIC di sekolah menjadi filter pertama dari dapur SPPG terkait keamanan makanan sebelum makanan diterima oleh penerima manfaat,” urainya.
Terkait dinamika komunikasi publik, Nuri mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memviralkan masalah tanpa verifikasi yang jelas.
“Kalau ada keluhan, bisa disalurkan melalui link resmi yang ada. Jangan langsung dibawa ke media sosial agar segera mendapatkan solusi yang pasti dan tidak justru menambah persoalan,” imbau Nuri.









