Pacitanku.com, TEGALOMBO — Tumpukan material batu koral dan drum-drum aspal menghiasi sisi jalan di kawasan jalur Tegalombo-Tulakan. Tidak hanya itu, sebuah alat berat juga tampak telah terparkir dan bersiaga di lokasi.
Berdasarkan pantauan lapangan Pacitanku.com pada Jumat (28/8/2026) sore, pemandangan ini menjadi angin segar sekaligus sinyal nyata dimulainya respons Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan atas hancurnya infrastruktur di jalur tersebut.
Meski alat berat telah turun gunung, teka-teki mengenai kapan pengerjaan fisik meratakan jalan ini akan dieksekusi masih menjadi tanda tanya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pacitan, Suparlan, belum memberikan konfirmasi mengenai jadwal pasti perbaikan hingga berita ini dirilis. Pacitanku sudah mencoba menghubungi, tapi belum mendapatkan respon dari pria yang akrab disapa Parlan ini.
Namun yang pasti, kehadiran alat berat ini merupakan jawaban langsung pemerintah daerah atas eskalasi kekecewaan warga yang memuncak beberapa hari terakhir.
Pekan ini, jalur dengan kontur tanjakan dan turunan ekstrem tersebut memang menjadi sorotan. Pemicunya adalah sebuah video viral yang diunggah oleh akun Instagram @tegalombo.media pada Minggu (23/8/2026).
Dalam tayangan nahas itu, seorang ibu berhelm hitam tampak terduduk lemas di tepi jalan tanah yang mengelupas, memeluk erat balitanya yang berjaket merah muda akibat terjerembap. Di dekatnya, seorang pria pengguna motor sport juga menjadi korban kecelakaan tunggal.

Kawasan Sengkan Selang selama ini memang dikenal sebagai titik buta (blind spot) yang sangat rawan.
Buruknya infrastruktur sejauh dua kilometer—dari arah Dusun Krajan (Tegalombo) menuju Sambi, Dusun Klitik (Kasihan)—membuat ban kendaraan kehilangan daya cengkeram.
Dalam video yang sama, seorang pria paruh baya memprotes keras kondisi ini, seraya mengungkap fakta memilukan bahwa sebelumnya seorang ibu hamil juga terjatuh di lokasi berdekatan hingga mengalami patah tulang kaki.
Rentetan insiden dan keluhan publik itu rupanya langsung sampai ke telinga Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji. Melalui kolom komentar di media sosial, orang nomor satu di Pacitan itu memberikan respons cepat dan berjanji akan mengambil tindakan.
“Siap, segera (ditangani),” tegas Bupati Indrata singkat dan padat.
Janji itu kini perlahan mewujud dalam bentuk alat berat yang telah bersandar di lokasi. Perbaikan ini terbilang sangat krusial, mengingat jalur Tegalombo-Tulakan bukan sekadar jalan biasa, melainkan urat nadi ekonomi warga.
Akses penghubung dua kecamatan ini menjadi tumpuan mobilitas sentra-sentra perniagaan utama. Setiap harinya, urat nadi ini menyalurkan denyut ekonomi dari Pasar Wage di Desa Tegalombo, Pasar Bunder di Desa Kasihan, hingga Pasar Kliwon di Kecamatan Tulakan.
Meski selama ini relawan pengemudi setempat atau ‘bolo roda’ telah berupaya menambal kerusakan secara swadaya, hasilnya tidak pernah bertahan lama.
Kini, dengan disiagakannya alat berat dan material resmi dari pemerintah, warga Tegalombo dan Tulakan menanti deru mesin pengeruk itu segera bekerja, memoles kembali aspal yang hancur sebelum jalur tersebut kembali memakan korban.










