Pacitanku.com, SURABAYA — Panel Discussion and Showcase Jatim Media Summit (JMS) 2026 di Surabaya, Kamis (30/7/2026), menyoroti lonjakan risiko peretasan dan doxing, sehingga praktisi industri kreatif mendesak kreator konten serta media memperkuat keamanan digital sejak dini.
Membangun jutaan pengikut di media sosial atau YouTube bukan lagi sekadar tantangan memproduksi materi yang memikat. Ketika ekosistem digital membesar, risiko pencurian identitas digital hingga doxing turut melonjak drastis.
Isu krusial ini dikupas mendalam dalam perhelatan Jatim Media Summit 2026 yang mempertemukan para pelaku industri media, kreator, dan pakar teknologi.
Co-Founder Riplay Studio Surabaya, Andi Said Tandio, mengungkapkan bahwa perjalanan membangun kanal YouTube dari puluhan ribu pelanggan hingga menembus lebih dari 14,5 juta subscriber tidak lepas dari berbagai ujian berat terkait keamanan digital.
Baca juga: Pemprov Jatim Dorong Media Jadi Motor Ekonomi Kreatif di Era AI
Menurutnya, tantangan terbesar seorang kreator masa kini bukan sekadar menghasilkan konten kreatif, melainkan memastikan seluruh aset digital tetap aman dari upaya pembajakan maupun penyalahgunaan akun.
“Semua konten kreator pasti mengalami tantangan keamanan digital. Ketika akun sudah besar, ancaman juga semakin besar,” ujar Andi dalam sesi diskusi panel tersebut.
Andi menceritakan, Rilplay Studio yang semula hanya digawangi oleh dua orang kini telah berkembang menjadi studio kreatif profesional dengan sekitar 20 tenaga ahli, meliputi penulis naskah, editor video, animator, pengisi suara, hingga pengelola media sosial.
Seluruh talenta tersebut direkrut secara strategis dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Gresik, Kediri, hingga Madiun.
Lebih lanjut, Andi membocorkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan peluncuran kanal baru berkonsep hiperlokal yang seluruh kontennya menggunakan bahasa Jawa dialek Suroboyoan.
Berdasarkan uji pasar yang telah dilakukan, format konten bernuansa lokal ini terbukti mendulang respons yang sangat tinggi dari penonton.
“Target kami pada 2027 bisa meluncurkan channel baru dengan seluruh talenta berasal dari Jawa Timur,”imbuhnya.
Di sisi lain, Trainer Cek Fakta Artika Farmita menyoroti bahwa ancaman terbesar yang menimpa media maupun kreator konten sering kali bersumber dari kelalaian internal dalam menjaga kebersihan digital atau digital hygiene.
Ia menyayangkan fenomena umum di mana para kreator baru mulai memikirkan sistem pengamanan setelah akun mereka memiliki jutaan pengikut, padahal proteksi semestinya dibangun sejak awal perintisan.
“Kalau kesehatan fisik dijaga setiap hari, maka kesehatan digital juga harus diperlakukan sama. Jangan menunggu terkenal baru peduli keamanan akun,”tegas Artika.
Artika menjelaskan bahwa spektrum serangan siber saat ini telah bergeser.
Serangan tidak lagi sebatas peretasan teknis, malware, atau serangan DDoS terhadap situs web, melainkan berkembang menjadi ancaman nonteknis seperti doxing, impersonasi, trolling, hingga kriminalisasi yang berdampak langsung pada kondisi psikologis dan reputasi korban.
Hilangnya akses akun, tambahnya, bukan sekadar memutus aliran pendapatan monetisasi, tetapi juga memaksa kreator membangun kembali audiens dari titik nol.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Artika mendesak media dan kreator agar segera menerapkan langkah-langkah mitigasi dasar.
Langkah krusial meliputi pengaktifan autentikasi dua faktor (2FA), penggunaan kata sandi yang kuat dan unik, pembaruan sistem operasi secara berkala, pemasangan perangkat lunak antivirus dan firewall, pemanfaatan VPN untuk aktivitas berisiko tinggi, serta pemisahan tegas antara akun pribadi dan akun profesional.
Pengelolaan aset digital juga wajib dijalankan secara profesional, terutama ketika sebuah kanal melibatkan banyak administrator. Kasus hilangnya akses akibat mantan staf atau admin yang masih memegang kata sandi lama masih kerap dijumpai di berbagai organisasi media maupun rumah produksi kreatif.
Selain itu, pencadangan data penting disarankan menerapkan aturan minimal tiga salinan: di perangkat utama, media penyimpanan eksternal, dan layanan penyimpanan berbasis awan (cloud).
Media juga diingatkan untuk tidak sekadar fokus pada aspek peliputan berita, melainkan mulai melibatkan divisi teknologi informasi sejak tahap perencanaan liputan sensitif.
Langkah preventif ini penting guna mengantisipasi risiko serangan siber, pelaporan massal (mass reporting), hingga peretasan situs web institusi.
Bagi korban yang telanjur mengalami serangan digital, Artika menyarankan langkah tanggap darurat seperti mengamankan akses akun, mencabut izin perangkat asing, memulihkan verifikasi berlapis, serta mencari pendampingan hukum dan psikologis melalui lembaga advokasi seperti SAFEnet, AJI, LBH Pers, maupun Yayasan Pulih.
“Keamanan digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Semakin besar akun dan pengaruh seseorang, semakin besar pula risiko yang harus diantisipasi,” pungkasnya.














