Pukau Ribuan Penonton, Ronthek Ngadirojo Suarakan Pelestarian Air di Gema Bambu Pacitan

oleh -138 Dilihat
Penampilan Grup Ronthek Kecamatan Ngadirojo di Alun-alun Pacitan
Grup Ronthek Kecamatan Ngadirojo menyuguhkan koreografi atraktif bertema pelestarian air dalam ajang Ronthek Pacitan Gema Bambu di Alun-alun Pacitan, Jumat (17/7/2026) malam. (Foto: Resi Wulandari/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Penampilan Grup Ronthek Kecamatan Ngadirojo sukses memukau ribuan penonton dalam ajang Ronthek Pacitan Gema Bambu di depan kantor Bupati kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto depan alun-alun Pacitan, Jumat (17/7/2026) malam.

Mengusung tema “Tengoro Bumi Tirtogiri Kalangan”, kontingen ini tak sekadar menyuguhkan atraksi seni yang atraktif, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kelestarian air sebagai sumber utama kehidupan masyarakat.

Baca juga: Masuk KEN Keempat Kalinya, Festival Ronthek Pacitan 2026 Resmi Dibuka dengan Meriah

Pesan pelestarian alam tersebut diceritakan melalui perjalanan dua nadi Sungai Purba Lorok yang bersumber dari wilayah Ngadirojo. Aliran sungai ini digambarkan sebagai kekuatan utama yang menghidupi ekosistem agraris di Bumi Lorok sejak masa lampau.

“Dua nadi Sungai Purba Lorok bertemu pada sebuah tempuran yang mengelilingi kaki Gunung Duwur. Dari sanalah air menjadi napas bagi seluruh ekosistem dan menjadi denyut kehidupan para peternak maupun petani,” ujar Pras, selaku pembawa acara (MC) saat membacakan narasi pementasan di hadapan penonton.

Dalam pertunjukannya, Grup Ronthek Ngadirojo juga memberikan pengingat keras tentang ancaman kerusakan lingkungan. Air yang menjadi sumber kehidupan bisa berubah menjadi bencana apabila manusia abai dalam menjaga keseimbangan alam, khususnya di kawasan hulu.

“Ketika hulu sungai dikhianati, aliran air dikotori, dan tangan-tangan manusia berhenti merawatnya, maka keramahan tirto berganti murka yang membabi buta, meluluhlantakkan segala yang dilewatinya,” tegas Pras mengiringi penampilan tersebut.

Komposisi musik bambu yang energik berpadu dengan koreografi apik membuat pesan moral ini tersampaikan dengan kuat kepada masyarakat yang memadati pusat kota. Penampilan ini membuktikan bahwa kesenian ronthek bukan sekadar tontonan tradisional, melainkan juga medium penyampai kearifan lokal.

Sebagai penutup narasi, Pras menekankan bahwa kebersamaan warga adalah kunci untuk merawat alam lintas generasi. “Kebersamaan Joko Tirto Ngukti Giri lan Ngeman Kalangan adalah sebuah keniscayaan abadi untuk menjaga Bumi Lorok agar tetap loh jinawi,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.