Pacitanku.com, NGDIROJO – Upaya pelestarian alam di Pantai Taman, Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, terus bertahan di tengah keterbatasan biaya operasional.
Meski wahana andalan sempat ditutup dan mahalnya biaya pakan membatasi jumlah satwa yang dirawat, pengelola setempat tetap setia menjadikan kawasan pesisir ini sebagai pusat edukasi konservasi penyu yang terjangkau bagi masyarakat.
Keberadaan Pantai Taman bukan sekadar tempat rekreasi biasa, melainkan ruang pembelajaran nyata tentang pelestarian satwa laut.
Baca juga: Sepi Pengunjung, Pantai Taman Pacitan Tetap Setia Jadi Rumah Konservasi Penyu
Bagi wisatawan yang ingin mencari alternatif liburan edukatif di Pacitan, berikut adalah lima fakta penting mengenai kondisi terkini Pantai Taman:
1. Perjuangan Konservasi Penyu di Luar Musim Bertelur

Pantai ini merupakan jalur strategis pendaratan tiga jenis penyu langka, yakni penyu hijau, penyu kembang, dan penyu belimbing.
Namun, di luar musim bertelur, pengelola terpaksa membatasi jumlah penyu di kolam konservasi karena minimnya dana operasional.
“Penyu masih aktif, Mbak. Cuma bulan-bulan ini untuk yang mendarat bertelur belum musim. Jadi, kami sisakan dua ekor agar pengunjung tetap bisa melihat. Kalau dipelihara semua tidak mungkin, biaya pakannya terlalu mahal,” ujar Petugas Koordinasi Pantai Taman, Condro.
2. Harga Tiket Terjangkau dan Stabil

Meski membutuhkan dana besar untuk pelestarian, tiket masuk Pantai Taman tidak mengalami kenaikan, bahkan saat musim liburan.
Karena dikelola langsung di bawah pengawasan Dinas Pariwisata, tarifnya sangat ramah di kantong, yakni Rp10.000 untuk orang dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak.
3. Fasilitas Dasar dan Kolam Renang Swadaya

Selain menikmati deburan ombak tebing, wisatawan dapat menggunakan fasilitas yang dibangun dari hasil swadaya pengelola.
“Untuk fasilitas, sementara ada musala dan dua toilet di sebelah timur serta barat kolam. Terus kolam renang itu milik kelompok KMKP-W, hasil pengembangan dari kelompok konservasi penyu,” jelas Condro.
4. Wahana Flying Fox Terpaksa Mati Suri

Bagi wisatawan pemburu adrenalin, wahana flying fox yang dahulu sempat populer kini terpaksa berhenti beroperasi.
Penutupan wahana ini murni diakibatkan oleh tingginya biaya perawatan peralatan yang tidak lagi sebanding dengan kemampuan finansial kelompok pengelola.
5. Menanti Bantuan Penataan Kawasan yang Teduh

Menyadari menurunnya angka kunjungan pasca-pandemi, pengelola berharap adanya bantuan dari pemerintah atau investor untuk menata lahan timur yang masih kosong.
Lahan warga yang dipenuhi pepohonan tinggi tersebut dinilai potensial untuk dikembangkan.
“Mungkin sekarang butuh penambahan fasilitas. Di sebelah timur itu masih sepi untuk pengajuan dananya. Harapannya bisa dibangun taman dan tempat duduk untuk anak muda, dibikin tempat yang sejuk. Itu sangat bisa sebenarnya, karena tanah kita juga masih luas,”pungkasnya.












