Upacara Adat Tirtowening Digelar Lebih Sederhana, Pemerintah Desa Sukoharjo Tetap Jaga Kekhidmatan Tradisi Leluhur

oleh -171 Dilihat
Prosesi pengambilan air Tirtowening dari Sumur Njero di Dusun Ngerjoso, Desa Sukoharjo, Pacitan. (Foto: Sherina/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN-Upacara Adat Tirtowening kembali digelar secara khidmat di Desa Sukoharjo, Kabupaten Pacitan, pada Kamis (19/2/2026) dini hari.

Tradisi sakral ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan.

Prosesi dimulai tepat pukul 00.00 WIB dengan ritual pengambilan air Tirtowening dari Sumur Njero yang berada di Dusun Ngerjoso, Desa Sukoharjo.

Upacara diawali dengan pemberian izin oleh Kepala Desa Sukoharjo, Solichin, kepada perangkat desa sebelum rombongan menuju lokasi sumur untuk melaksanakan tata cara adat yang telah diwariskan turun-temurun.

Sebelum air diambil, rombongan terlebih dahulu menghadap juru kunci Sumur Njero sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan tradisi leluhur.

Perangkat Desa Sukoharjo bersama juru kunci mengambil air Tirtowening sesuai tata cara adat dalam rangka HUT ke-281 Kabupaten Pacitan. (Foto: Sherina/Pacitanku)

Air Tirtowening yang telah diambil kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar untuk diminum maupun dibasuhkan ke tubuh sebagai simbol doa, keselamatan, dan keberkahan.

Sebagian air juga diguyurkan dengan cara mengelilingi balai desa sambil melantunkan sholawat bersama.

Prosesi ini melambangkan doa dan harapan agar Desa Sukoharjo senantiasa diberikan kesejahteraan serta perlindungan.

Pelaksanaan Upacara Adat Tirtowening tahun ini berlangsung lebih sederhana dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Jika sebelumnya melibatkan partisipasi masyarakat secara luas, tahun ini prosesi diikuti secara terbatas oleh perangkat desa dan unsur pemerintah desa.

Meski demikian, suasana tetap berjalan tertib, sakral, dan penuh kekhidmatan.

Kepala Desa Sukoharjo, Solichin, menegaskan bahwa kesederhanaan tidak mengurangi nilai tradisi tersebut.

“Upacara adat Tirtowening memiliki makna dan nilai sakral yang sangat tinggi bagi masyarakat Desa Sukoharjo. Prosesi ini menjadi bagian penting dalam setiap peringatan hari jadi Desa Sukoharjo maupun Hari Jadi Kabupaten Pacitan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa yang terpenting adalah kelangsungan tradisi serta terjaganya tata cara ritual yang diwariskan leluhur.

“Meski dilaksanakan secara sederhana, kami tetap menjaga tata cara dan makna pengambilan air Tirtowening sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur,” katanya.

Upacara Adat Tirtowening tetap menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan.

Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya sekaligus identitas Desa Sukoharjo.

Pemerintah desa berharap tradisi ini terus dilestarikan setiap tahun sebagai bagian dari sejarah dan kearifan lokal masyarakat.

“Kami berharap tradisi ini tetap berjalan setiap tahun. Semoga nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya membawa kebaikan serta keberkahan bagi masyarakat Desa Sukoharjo,” tambah Solichin.