Pacitanku.com, PACITAN – Di ambang senja, suasana di dalam rumah-rumah warga Desa Gondang, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, terasa berbeda pada Selasa (17/2/2026). Di atas sebuah meja yang dialasi kain bersih, tersusun rapi sebuah sajian yang tidak biasa.
Wangi dari secangkir kopi pahit, teh hangat, dan gula jawa menguar, menjadi penanda dimulainya “ritual ambang pintu”.
Tradisi ini rutin dilakukan warga setempat untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan, sekaligus sebagai bentuk memuliakan para leluhur.
Bagi warga yang menjalaninya, deretan benda di atas meja itu bukanlah sekadar suguhan fisik. Ia adalah wujud “penyajian” niat yang tulus dan simbol komunikasi tanpa kata antara anak cucu yang masih berpijak di bumi dengan pendahulu yang telah beristirahat di alam keabadian.
Salah satu warga desa setempat, Mijem (50), mengungkapkan bahwa memasang sajian ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur yang telah tiada. Tradisi ini terus diwariskan secara turun-temurun sebagai pengingat akan akar silsilah keluarga.
“Harapannya, melalui wasilah doa dan penghormatan ini, keluarga yang ditinggalkan diberikan keselamatan dan kesehatan agar dapat menjalankan ibadah puasa esok hari dengan khidmat,” ujar Mijem.
Dalam tradisi ini, setiap benda yang disajikan memiliki “nyawa” filosofisnya sendiri. Kehadiran kaca (cermin) dan sisir menjadi simbol pengingat bagi yang hidup untuk selalu mawas diri dan membersihkan hati sebelum menghadap Sang Pencipta.
Sementara itu, rokok kertas atau lintingan tembakau diletakkan untuk mengenang kebiasaan harian para leluhur semasa hidupnya, agar ikatan batin tetap terasa dekat.
Di sisi lain, sajian ketan yang lengket melambangkan harapan akan tali silaturahmi yang tak terputus (kraket). Ada pula gula jawa yang membawa pesan kemanisan budi pekerti yang harus terus dirawat oleh generasi penerus.
Di tengah ragam sajian tersebut, kue apem selalu menempati posisi sentral. Kue yang terbuat dari tepung beras ini diyakini memiliki serapan dari kata afwun dalam bahasa Arab, yang berarti ampunan.
Puncak dari prosesi tradisi ini adalah kenduri. Saat anggota keluarga dan tetangga duduk bersila melingkari ambengan (sajian) tersebut, suasana khidmat menyelimuti ruangan.
Dengan kepala menunduk, mereka merapal doa-doa tulus untuk keselamatan arwah leluhur dan keberkahan bagi keluarga yang hendak menyambut bulan suci Ramadan.










