Hidupkan Nuansa Tempo Dulu, Pasar Beling Song Meri Jadi Primadona Wisata Nostalgia Unik di Pacitan

oleh -1537 Dilihat
Pemandangan luas suasana Pasar Beling yang ramai dipadati pengunjung. Terlihat struktur bangunan bambu besar di sebelah kiri dan deretan gubuk bambu penjual di sebelah kanan, dengan banyak orang duduk santai dan berinteraksi di area terbuka yang dikelilingi pohon kelapa.
WISATA ALTERNATIF. Suasana Pasar Beling tampak ramai dipadati warga yang menghabiskan waktu libur mereka. Pasar yang mengusung konsep kembali ke alam dengan bangunan yang didominasi material bambu ini menjadi destinasi wisata kuliner dan rekreasi alternatif yang diminati masyarakat. (Foto: Putro Primanto/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Kehadiran Pasar Beling Song Meri di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan pada Minggu (25/1/2026) kini menjadi magnet baru pariwisata Kabupaten Pacitan.

Kegiatan ini juga sukses mengobati kerinduan masyarakat akan suasana tempo dulu melalui konsep transaksi unik menggunakan koin beling.

Destinasi wisata berbasis ekonomi kreatif ini hadir berkat inisiatif kolaboratif antara manajemen pengelola dan para pegiat seni lokal yang ingin menghidupkan kembali nuansa tradisional yang kian langka di tengah modernisasi.

Pengelola sekaligus pegiat seni Pacitan, Cristian Ade Chandra atau yang akrab disapa Mas Pencrit, mengungkapkan bahwa pasar ini sejatinya merupakan revitalisasi dari gagasan lama yang sempat meredup karena kendala operasional.

Ia menjelaskan bahwa tantangan utama di masa lalu adalah inkonsistensi kehadiran pedagang, sehingga manajemen saat ini menerapkan sistem kontrak yang lebih profesional untuk memastikan lapak tetap terisi dan pelayanan kepada pengunjung tetap optimal.

Cristian Ade Candra, seorang pria tersenyum mengenakan baju lurik bergaris cokelat hitam, memegang dan menunjukkan sebuah koin atau token bertuliskan "50K". Ia berdiri dengan latar belakang suasana Pasar Beling yang ramai pengunjung.
ALAT TUKAR UNIK. Cristian Ade Candra menunjukkan koin khusus (token) bernilai 50K yang digunakan sebagai alat transaksi resmi di Pasar Beling. Penggunaan mata uang khusus ini menjadi ciri khas dan menambah pengalaman unik bagi para pengunjung saat berbelanja di pasar ini. (Foto: Putro Primanto/Pacitanku)

“Sebenarnya ini sudah berjalan, masalahnya dulu pedagangnya tidak konsisten. Kesepakatan kita jalan kontrak pedagang apapun yang terjadi tetap harus ada,”kata Cristian, saat dikonfirmasi Pacitanku.com di lokasi acara.

Strategi pembenahan manajemen tersebut terbukti ampuh karena antusiasme pengunjung yang memadati lokasi ternyata jauh melampaui ekspektasi penyelenggara.

Saat ini, tercatat sebanyak 15 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) baik dari Desa Sukoharjo maupun wilayah sekitarnya telah berkomitmen meramaikan pasar dengan menjajakan kuliner dan produk khas ndeso.

Cristian pun tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya melihat respons positif warga yang rindu akan ruang interaksi sosial yang guyub dan alami.

Demi memperkuat identitas sebagai destinasi wisata budaya, manajemen berencana mengembangkan berbagai wahana pendukung seperti permainan anak tradisional dan fasilitas penunjang yang kental dengan ornamen zaman dahulu.

Pasar Beling Song Meri dijadwalkan akan beroperasi secara rutin satu kali setiap bulan pada hari Minggu agar masyarakat dapat menjadikannya agenda liburan tetap bersama keluarga.

Dia optimistis keunikan sistem transaksi dan atmosfer yang ditawarkan tidak hanya memikat wisatawan lokal, tetapi juga mampu menarik pelancong dari luar Pacitan.

“Tema tradisional diambil agar lain daripada yang lain. Tentu nantinya bukan hanya wisatawan lokal yang kita promosikan, tetapi juga untuk wisatawan luar Pacitan,”pungkasnya.