Pacitanku.com, PACITAN — Gua Luweng Jaran yang tersembunyi di perut bumi Kabupaten Pacitan bukan sekadar fenomena geologi biasa, melainkan sebuah mahakarya arsitektur alam yang menyimpan potensi besar sebagai gua terpanjang di Indonesia di balik legenda tragis yang melatarbelakangi penamaannya.
Guna membuktikan data ilmiah mengenai panjang sistem lorong yang konon melampaui 18 kilometer, Pacitan Speleology Society (PSS) menargetkan akan melakukan eksplorasi dan pemetaan ulang secara menyeluruh pada tahun 2026 ini.
Anggota PSS, Aziz Pratoko, mengungkapkan bahwa Luweng Jaran merupakan salah satu temuan monumental dari ekspedisi besar Anglo-Australian Speleological Expedition yang berlangsung antara tahun 1984 hingga 2002.
“Hingga detik ini, data resmi yang terpublikasi mencatat panjang gua ini mencapai 11 kilometer dan menobatkannya sebagai gua terpanjang di Pulau Jawa,”kata Aziz saat berbincang dalam siniar Kertas Kosong Pacitanku TV dikutip pada Kamis (22/1/2026).
Namun, para penjelajah gua meyakini masih banyak lorong gelap abadi yang belum terpetakan sepenuhnya yang berpotensi mengubah status gua ini menjadi yang terpanjang di Nusantara, menggeser rekor yang ada saat ini.
Aziz menjelaskan bahwa nama unik yang melekat pada gua vertikal ini diambil dari peristiwa memilukan di masa lampau yang terjadi di Desa Jlubang, Kecamatan Pringkuku.

Menurut cerita tutur yang diwariskan turun-temurun, nama “Jaran” atau kuda merujuk pada tragedi seorang pejabat dusun yang hilang ditelan bumi bersama kereta kudanya.
Konon, saat banjir bandang menerjang, pejabat tersebut terperosok ke dalam luweng ketika hendak menyeberang, menyisakan jejak kaki kuda yang dipercaya warga masih membekas di sekitar lokasi hingga kini.
“Gua Luweng Jaran ini adalah gua yang sangat unik karena memiliki sistem yang sangat panjang. Untuk panjang yang sudah dipublikasi itu 11 kilometer dan menjadi gua terpanjang di Pulau Jawa. Tetapi ada rumor juga yang mengatakan bahwa Luweng Jaran ini memiliki panjang 18 kilometer lebih,”jelas Aziz.
Dalam dunia speleologi, Luweng Jaran memiliki reputasi sakral di mana seorang penjelajah gua di Pacitan belum dianggap tuntas petualangannya jika belum menaklukkan kedalaman gua ini.
Kendati demikian, salah satu dari 13 geosite di Kabupaten Pacitan ini tidak dibuka untuk wisata massal, melainkan dikategorikan khusus sebagai wisata minat khusus demi alasan keselamatan dan konservasi ornamen gua yang langka.
Pengunjung wajib memiliki keahlian teknik penelusuran gua vertikal atau didampingi oleh ahli profesional untuk menikmati keindahan jaringan sungai bawah tanahnya yang rumit.
Rencana pemetaan ulang yang akan dilakukan PSS diharapkan dapat memvalidasi data panjang gua sekaligus memperbarui peta bawah tanah yang diwariskan oleh tim ekspedisi Australia puluhan tahun silam.
Upaya ini menjadi bukti konkret bahwa kawasan Karst di Geopark Gunung Sewu masih menyimpan segudang misteri yang menanti untuk disingkap.
Masyarakat Desa Jlubang sendiri telah menyadari potensi ini dengan membangun gapura berhiaskan patung kuda sebagai penunjuk arah, menandakan kesiapan mereka menyambut wisatawan minat khusus yang ingin menelusuri jejak legenda dan sains di perut bumi Pacitan.
Video Menyingkap Misteri Perut Bumi Pacitan Bersama Para Penjelajah Goa | Podcast Kertas Kosong Eps. 51









