Pacitanku.com, PACITAN — Kegagalan mengejar cita-cita masa kecil sebagai dalang justru menjadi pembuka jalan kesuksesan bagi Gunawan Bimo Putra, seorang pemuda asal Pacitan yang kini dikenal sebagai pengrajin wayang berkualitas internasional.
Karya seni tradisional buatan tangan Bimo kini tidak hanya dinikmati pasar lokal, tetapi telah merambah hingga ke Jepang dan Australia, membuktikan bahwa ketekunan dalam menekuni kearifan lokal mampu menembus batas geografis.
Kisah inspiratif ini terungkap dalam sesi wawancara di program siniar Kertas Kosong yang ditayangkan kanal YouTube Pacitanku TV, dikutip pada Senin (19/1/2026).
Bimo menceritakan bahwa kecintaannya terhadap dunia pewayangan telah tumbuh sejak usia dini dengan impian awal berdiri di balik kelir sebagai seorang dalang.
Namun, realitas hidup memaksanya mengubur impian tersebut karena berbagai kendala yang tidak memungkinkannya melanjutkan cita-cita itu.
Pasca lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada tahun 2013, Bimo sempat merantau ke Jakarta selama satu tahun.
Sekembalinya ke kampung halaman, ia sempat dilanda kebingungan mencari pekerjaan hingga akhirnya memutuskan untuk kembali menekuni dunia wayang dengan peran berbeda, yakni sebagai kreator di balik layar.
Bimo mengakui bahwa perjalanan awalnya tidak mudah karena karya pertamanya masih jauh dari kata sempurna dengan bentuk yang dinilainya tidak karuan dan belum proporsional.
“Sebenarnya mulai dari kecil suka wayang, cita-cita malah pengen jadi dalang, tapi karena ada kendala akhirnya tidak jadi. Zaman dulu bentuk wayangnya tidak karuan, tidak proporsional,”kenang Bimo.
Titik balik peningkatan kualitas karyanya terjadi saat ia mulai memperluas jejaring melalui media sosial Facebook dan berkesempatan menghadiri peringatan Hari Wayang perdana di Solo.
Di sana, Bimo menyerap ilmu langsung dari para maestro, mulai dari teknik memahat atau natah hingga cara mencampur cat yang benar.
Hasilnya, kini produk buatan Bimo memiliki ciri khas kuat dengan ketajaman warna dan detail batik yang berbeda dari pengrajin lainnya, terutama pada warna emas, merah, biru, dan hijau yang lebih tajam.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil manis dengan mengalirnya pesanan dari berbagai daerah seperti Batam hingga menembus pasar mancanegara.
Bimo mengungkapkan kebanggaannya bahwa di Australia, wayang buatannya mendapatkan apresiasi tinggi dan memiliki fungsi yang sangat istimewa.
“Yang lebih spesial itu malah yang di Australia, wayangnya itu malah dibikin bahan pembelajaran kehidupan di sana,” pungkasnya.
Video Cerita Bimo, Anak Muda Pacitan Pelestari Budaya Jawa Wayang | Podcast Kertas Kosong Eps. 52












